Tips Bermunajat Di Raudhah Ziarah Expedia Wisata

Tips Bermunajat Di Raudhah Ziarah Expedia Wisata

Tips Bermunajat Di Raudhah Ziarah Expedia Wisata

Jamaah haji dari berbagai negara sudah membanjiri Madinah, khususnya Masjid Nabawi, untuk melaksanakan salat arbain. Selain itu para jamaah juga mencari kesempatan untuk bisa memanjatkan doa di raudhah atau taman surga, sekaligus berziarah ke makam Nabi Muhammad. Butuh doa yang khusyuk dan kesabaran ekstra untuk menembus raudhah.

Baca Juga: Perbedaan Haji Dan Umroh

Raudhah atau biasa disebut taman surga terletak di antara mimbar dengan makam yang dahulu rumah Rasulullah. Tempat ini diberikan nama Raudhah oleh Rasulullah sendiri dan disebut sebagai tempat yang makbul untuk memohon kepada Allah SWT. Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau dan pilar-pilar yang dicat agak berbeda dengan bunga-bunga dibanding pilar Masjid Nabawi pada umumnya.

Ketua PPIH Daker Madinah Nasrullah berbagi tips untuk menembus kepadatan raudhah. Selain mengikhlaskan diri kepada Allah SWT, jamaah perlu menghitung waktu berkunjung yang tepat agar bisa merasakan kesejukan raudhah.

“Pertama, untuk jamaah perempuan ke raudhah itu tidak seperti laki-laki, dia diberi space dari pukul 08.00 pagi. Kalau diatur sedemikian rupa bisa ke raudhah,” kata Nasrullah di Madinah

Untuk laki-laki, meskipun waktunya lebih leluasa namun perlu memilih waktu yang tepat. Karena jamaah Masjid Nabawi di setiap waktu salat sudah ribuan.

“Laki-laki bisa pertengahan malam, pagi, atau siang. Saran saya mencari waktu itu,” kata Nasrullah.

Namun dia berharap jamaah tidak memaksakan diri. Dia juga mengimbau para jamaah haji untuk memanfaatkan waktu untuk salat arbain dengan bijak. Mengingat jamaah hanya 9 hari di Madinah untuk melaksanakan salat 40 waktu itu.

“Jangan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak terkait ibadah,” ingatnya.

“Kalau berbelanja itu di Makkah juga masih banyak toko,” pungkasnya

Keyword: Tips Bermunajat Di Raudhah Ziarah Expedia Wisata Tips Bermunajat Di Raudhah Ziarah Expedia Wisata Tips Bermunajat Di Raudhah Ziarah Expedia Wisata Tips Bermunajat Di Raudhah Ziarah Expedia Wisata Tips Bermunajat Di Raudhah Ziarah Expedia Wisata

Hukum Sholat Arbain Dalam Haji Ziarah Expedia Wisata

Hukum Sholat Arbain Dalam Haji Ziarah Expedia Wisata

Hukum Sholat Arbain Dalam Haji Ziarah Expedia Wisata

Setiap kali akan melaksanakan ibadah haji, maka jamaah haji Indonesia akan menetap di Madinah minimal 8 hari untuk pelaksanaan ibadah sholat Arba’in. Rutinitas ini pun kemudian menjadi sebuah ibadah tetap yang dilaksanakan jamaah haji Indonesia setiap tahunnya.

Baca Juga: Perbadaan Haji Dan Umroh

Pertanyaannya kemudian yang harus diajukan adalah, apakah dasar hukum shalat Arbain dalam pelaksanaan haji? Dan tentu tidak banyak orang yang tahu, sehingga kami merasa perlu untuk mengulasnya sedikit, meskipun sebenarnya sudah banyak tulisan dan makalah yang membahasnya.

Arba’in atau Arba’un dari sisi bahasa merupakan kata Bahasa Arab yang berarti empat puluh. Pemahaman empat puluh dalam hal ini dikaitkan dengan waktu tertentu, sehingga pelaksanaan ibadah Arbain adalah shalat di Masjid Madinah atau Masjid Nabawi selama empat puluh kali.

Di samping itu pemahaman masyarakat awam berkembang bahwa yang dimaksud dengan shalat Arba’in di Masjid Nabawi adalah shalat empat puluh kali berturut-turut dengan catatan bisa bertakbiratul ihram dengan imam.

Sebelum kita mengulasnya lebih jauh, ada catatan penting yang harus diingat terlebih dahulu, yaitu dasar penting dalam pengamalan agama di dalam Fikih Islam didasarkan pada 4 hal:

  1. Al-Quran
  2. Hadits Nabi
  3. Ijma’ Ulama
  4. Qiyas.

Sehingga setiap permasalahan hukum di dalam Islam baik yang berhubungan dengan Ibadah (hubungan hamba dengan Khaliq) atau pun Muamalah (hubungan Hamba dengan hamba dan kehidupan sekitarnya), harus merujuk kepada empat hal di atas, dengan urutan yang tidak boleh dibolak-balik.

Jika dalil ditemukan dalam Al-Quran, maka tidak perlu dipertanyakan lagi keabsahannya, tetapi ketika kita menemukan dalil dari Hadits Nabi, maka pengamalan terhadap Hadits tersebut tidak boleh langsung dilakukan, sampai terbukti dengan jelas derajat dari Hadits tersebut.

Jika Hadits tersebut sampai pada derajat Shahih dan Hasan, maka tentunya sebuah Hadits boleh diamalkan, sebaliknya jika derajat Haditsnya Dha’if (lemah), maka tentunya tidak boleh diamalkan.

Jumhur ulama Hadits sendiri membenarkan penggunaan Hadits Dhai’f dengan tingkat kelemahan ringan pada masalah Fadhailul A’mal, yaitu hal-hal yang menjelaskan keutamaan amalan-amalan yang sudah ditetapkan berdasarkan Hadits yang shahih atau Hasan. Sedangkan Hadits Dhai’f dengan tingkat kelemahan yang berat tidak boleh digunakan baik pada masalah penetapan hukum maupun juga dalam hal Fadhailul A’mal. Dan aturan sanad (periwayatan) yang ketat ini merupakan kelebihan umat Muhammad yang tidak dimiliki oleh umat lainnya.

Untuk itu, dalam masalah shalat Arba’in, jika kita melihat lebih lanjut, maka dasar rujukan untuk pelaksanaan ibadah ini adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad dan Imam Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausat, yang berbunyi:

عَنْ نبيط بن عمر عن أنس بن مالك عن النبى -صلى الله عليه وسلم- أَنه قال : من صلى فى مسجدى أربعين صلاة لا يفوته صلاة كتبت له براءة من النار ونجاة من العذاب وبرئ من النِفاق

Dari Nubaith bin Umar dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barang siapa yang mengerjakan empat puluh shalat di masjidku dalam keadaan tidak tertinggal satu pun shalat maka akan dicatat untuknya pembebasan dari api neraka dan keselamatan dari kemunafikan”.

Para ulama Hadits berbeda pendapat tentang keabsahan Hadits ini karena Ibnu Hibban memasukkan perawi Hadits ini yang bernama Nubaith bin Umar ke dalam kitabnya Ats-Tsiqaat. Padahal Nubaith bin Umar ini tidak dikenal (Majhul), dan para ulama Hadits menjelaskan bahwa Ibnu Hibban memakai standar longgar dalam kitab ini, yaitu memasukkan orang-orang yang Majhul dalam kelompok rawi yang terpercaya (Tsiqah).

Nashirudin Al-Albani, seorang kritikus Hadits modern, dalam Silsilah Al-Dhai’fah dan Dha’if Al-Targhib, mengomentari Hadits di atas dengan munkar (informasi Hadits hanya dari satu jalur). Bahkan dalam kitab Manasik Haj wal Umrah, beliau (Al-Albani) membuat bab : Bid’ah-bid’ah Ziarah di Madinah Al-Munawarah. Lalu pada hal. 63 beliau berkata, “Menetapnya para penziarah di Madinah selama seminggu sehingga dapat melaksanakan empat puluh shalat di Masjid Nabawi dengan tujuan berlepas dari kenifakan dan dari neraka”. Kemudian memberi catatan kaki, “Hadits yang berkaitan dengan hal itu tidak shahih dan tidak dapat dijadikan hujjah. Aku telah jelaskan cacatnya pada Silsilah Dha’ifah no. 364”.

Akan tetapi, orang-orang yang menganggap bahwa Shalat Arba’in ini memang diperintahkan, kemudian menguatkan pendapatnya dengan Hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi yang berbunyi:

عن أَنس بن مالك قال قالَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- من صلى للَّه أربعين يوما فى جماعة يدرك التكبيرة الأُولى كتبت له براءتان براءة من النار وبراءة من النفاقِ

Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mengerjakan shalat secara ikhlas karena Allah selama empat puluh hari dengan berjamaah dan dengan mendapatkan takbiratul ihram maka dicatat untuknya dua kebebasan, bebas dari neraka dan bebas dari kemunafikan”. (HR ar-Tirmidzi no. 241).

Al-Albani di dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib 1/98 no. 409 menyebutkan bahwa derajat Hadist ini adalah Hasan, sedangkan Al-‘Iraqi dalam Takhrij Ahadits Ihya Ulumiddin 1/334 mengatakan bahwa para perawinya tsiqah.

Secara umum, matan (isi) Hadits ini memang mirip dengan Hadits sebelumnya pada beberapa hal:

  1. Memuat kalimat empat puluh
  2. Pembebasan dari api neraka dan kemunafikan

Akan tetapi jika kita mau melihat secara lebih teliti, maka isi Hadits yang kedua sama sekali berbeda dengan isi yang terdapat pada Hadits yang pertama. Perhatikan matan (isi) hadits yang kedua:

  1. Shalat yang diperintahkan dalam waktu empat puluh hari atau sebanyak 200 shalat, bukan delapan hari atau 40 shalat
  2. Shalat dilakukan dengan berjamaah tanpa menyebutkan tempat atau pengkhususan tempat tertentu seperti Masjid Nabawi yang terdapat pada Hadits yang pertama, yang sudah diketahui kemajhulannya.

Untuk itu, menggabungkan Hadits pertama dan kedua dengan metode penggabungan Hadits yang terkenal di kalangan ulama Hadits tentu tidak berdasar. Sehingga jelas bahwa pelaksanaan ibadah shalat Arba’in tidak ada rujukan yang shahih dari agama.

Untuk itu, setiap jamaah haji yang menetap minimal delapan hari di Madinah, menurut hemat kami, tidak perlu meniatkan untuk ibadah shalat Arba’in yang tidak berdasar pada Hadits yang Shahih. Tapi hendaknya tinggal di sana dengan niat agar bisa ibadah di salah satu mesjid dari tiga mesjid yang mempunyai keistimewaan dari mesjid-mesjid lainnya di bumi ini, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsha.

Di samping itu, juga terdapat Hadits lainnya yang menjelaskan keistimewaan shalat di Masjid Nabawi.

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: صلاة في مسجدي هذا خير من ألف صلاة فيما سواه، إلا المسجد الحرام

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw bersabda : “Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. ” (HR. Al-Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 505).

Sholat Arbain Yang Dianjurkan Nabi Ziarah Expedia Wisata

Sholat Arbain Yang Dianjurkan Nabi Ziarah Expedia Wisata

Sholat Arbain Yang Dianjurkan Nabi Ziarah Expedia Wisata

Shalat Arba’in cukup dikenal oleh masyarakat haji Indonesia, yaitu shalat berjamaah sebanyak 40 kali berturu-turu di masjid Nabawi Madinah dan tidak boleh tertinggal takbiratur ihram. Menurut versi haditsnya yang lemah, keutamaannnya sangat banyak. Haditsnya yaitu,

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً، لاَ يَفُوتُهُ صَلاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

“Barang siapa shalat di masjidku empatpuluh shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan.”

Baca Juga: Perbedaan Haji Dan Umroh

Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Al-Albany dalam Silsilah Adh-Dhaifah, no. 364, dalam kitab lainnya sedangkan dalam kitab  “Dhaif At-Targhib”, no. 755, beliau mengatakan, “Munkar”.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baz (Mufti utama Arab Saudi di masa silam) rahimahullah menjelaskan,

Adapun yang banyak beredar di tengah masyarakat bahwa orang yang berziarah (ke Madinah) dan menetap di sana selama 8 hari agar dapat melakukan shalat arbain (40 waktu). Meskipun ada sejumlah hadits yang diriwayatkan, bahwa siapa yang shalat empat puluh waktu, akan dicatat baginya kebebasan dari neraka dan kebebasan dari nifaq, hanya saja haditsnya dhaif menurut para ulama peneliti hadits. Tidak dapat dijadikan hujjah dan landasan. Berziarah ke Masjid Nabawi tidak ada batasannya, apakah berziarah sejam atau dua jam, sehari atau dua hari atau lebih dari itu, tidaklah mengapa.”1

Hadits arbain yang boleh dan ada dasarnya

Terdapat hadits lain mengenai shalat Arbain yang shahih, akan tetapi berbeda dengan sebelumnya. Hadits tersebut:

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.

Barang siapa yang shalat karena Allah empat puluh hari secara berjamaah tanpa ketinggalan takbir yang pertama, dicatatkan baginya dua kebebasan; kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan2

Perbedaan dengan sebelumnya adalah dilakukan selama 40 hari (bukan delapan hari) dan tidak mesti harus di Masjid Nabawi, bisa di masjid mana saja. Insya Allah orang yang rutin shalat berjamaah di masjid tepat waktu akan mudah mendapatkan keutamaan ini. Semoga kita dimudahkan oleh Allah melaksanakannya.

Beberapa catatan mengenai shalat arbain

Shalat Arbain juga memberikan beberapa konsekuensi karena harus berturut-turut dan tidak boleh tertinggal takbiratur ihram bersama imam.

  1. Terkadang kita ketiduran, kurang fit atau terlalu capek akhirnya kita agak terlambat, kemudian pasti akan terburu-buru bahkan berlari kencang untuk mengejar takbiratur ihram bersama imam. Padahal tubuh sedang tidak fit atau sedang sakit. Ini juga menyalahi sunnah agar datang ke masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, adapun yang tertinggal bisa di sempurnakan setelahnya. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

    Jika kalian mendengar iqamat, berjalanlah untuk shalat dengan tenang dan wibawa, jangan terburu-buru, shalatlah bersama imam sedapatnya, dan sempurnakan sendiri bagian yang tertinggal.”3

  2. Ketika tertinggal takbiratul ihram shalat Arba’in atau ketiduran maka jamaah akan merasa sangat sedih sekali. Padahal mayoritas jamaah haji dan umrah umumnya pernah tertinggal takbiratur ihram, baik karena sakit, kecapekan, ketiduran atau mengurus keluarga yang sakit. Mereka sangat sedih tidak mendapatkan keutamaan shalat Arba’in. Akibatnya mereka murung, tidak semangat dan bisa jatuh sakit karena memang tujuan utama mereka di Madinah adalah shalat Arbain.
  3. Beberapa jamaah yang tidak diprogram tinggal di Madinah selama 8 hari, memaksakan diri dan terkadang bekal tidak cukup, rela ditinggal rombongan karena benar-benar ingin mengejar 40 shalat Arba’in.
  4. Terlalu fokus ibadah di Madinah dan memaksakan diri, padahal lebih diutamakan shalat dan ibadah di Masjdil Haram Makkah karena memang lebih banyak keutamaannya.
  5. Jamaah haji wanita juga terkadang kecewa, ketika sedang semangat Shalat Arbain atau sedang akan sempurna, tiba-tiba datang haid. Bisa jadi uring-uringan dan tidak semangat lagi. Bagi jamaah wanita lebih baik merenungi hadits bahwa shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi karena seorang sahabat wanita dinasehatkan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam agar shalat di rumahnya karena lebih baik dari shalat di masjid nabawi. Akan tetapi tidak masalah juga shalat di masjid nabawi dengan keutamaannya, lebih-lebih kesempatan ini sangat jarang bagi jamaah Indonesia.

Berikut haditsnya:

عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي»

Dari Ummu Humaid –istri Abu Humaid as-Sa’idi-bahwa ia telah datang kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata, “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu  lebih baik bagimu dari shalat di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu dari shalat di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu dari shalat di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalat di masjid Nabawi.4

Demikian semoga bermanfaat.

 

Mencicipi Kurma di Pasar Madinah Ziarah Expedia Wisata

Mencicipi Kurma di Pasar Madinah Ziarah Expedia Wisata

Mencicipi Kurma di Pasar Madinah Ziarah Expedia Wisata

Tak salah jika Madinah sering disebut sebagai surganya penyuka kurma. Beragam jenis buah khas Tanah Suci tersebut mudah ditemui di Kota Nabi | Haji |

Baca Juga: Mekkah Yang Dirindukan

Memang banyak perkebunan kurma di sudut-sudut Kota Madinah. Jika malas mengunjungi kebun kurma, cukup berkunjung ke pasar kurma saja, semua jenis kurma hasil bumi Madinah dijajakan rapih.

Salah satu pasar kurma yang cukup terkenal adalah pasar kurma Sukudro, sekitar 15 menit dari Masjid Nabawi menuju arah Masjid Miqot Bir Ali. Letaknya di kiri jalan. Di pasar ini semua jenis kurma dijajakan.

Pasar ini biasa ‎ramai di sore hari. Ada lapak-lapak di dalam bangunan mirip aula terbuka, ada toko-toko yang berjejer rapih ‎di tepian jalan, juga ada lapak terbuka di atas trotoar di sepanjang jalanan di dekat parkiran mobil. Ada cara unik berbelanja di pasar ini, saking ramainya, banyak pembeli langsung menawar kurma di dalam mobil. Antreannya seperti antrean mengisi BBM saja.

Mulai dari kurma nabi atau yang dikenal dengan ‎kurma nabi yang dijual mulai 50 riyal per kilogram, kurma lembut syukari yang dijual mulai 20 riyal per box, dan beragam jenis kurma lainnya dijual di pasar ini.

Kurma nabi berwarna kehitaman, bertekstur lembut dan punya ciri khas rasa. Banyak yang mencari kurma yang cukup mahal ini. “Kurma Nabi paling dicari, ada kepercayaan kalau makan 7 biji kurma nabi dalam sehari akan terbebas dari sihir,” kata Faisal, WNI asal Lombok yang sudah 5 tahun jadi pelayan salah sa‎lah satu toko kurma di Pasar Sukudro.

Kurma yang panjangnya lebih dari 5cm tersebut adalah ‘Si Jumbo’ kurma Taiba. Sesuai ukurannya yang besar, daging kurma ini juga sangat tebal. “Makan sebiji saja sudah cukup kenyang,” kata salah seorang pembeli di kios Faisal.

Selain kurma yang sudah matang di pasar ini juga dijual ‎kurma muda, bubuk kurma, dan lainnya. Kurma muda dan bubuk kurma diyakini bisa membantu kehamilan. Selain itu juga dijual berbagai olahan kurma seperti kurma lapis cokelat, biskuit kurma, dan lainnya.

Karena jarak yang cukup jauh tak banyak jamaah haji ditemukan di pasar kurma ini. Namun di sekitar Masjid Nabawi juga banyak penjual kurma, hanya selangkah dari Masjid Nabawi juga berjejer kios-kios penjual kurma. Tentu saja harganya cukup tinggi, tapi cukup untuk sekedar melengkapi buah tangan jamaah haji.

“Jangan membeli kurma yang sudah kering dan keras karena itu artinya barang lama,” kata Faisal memberikan tips cara memilih kurma. Walaupun kurma adalah buah yang dikenal tak pernah busuk, semakin matang kurma justru semakin nikmat rasanya.

Waspada Dehidrasi Dan Heat Stroke Saat Haji

Ziarah Expedia Wisata Waspada Dehidrasi Dan Heat Stroke Saat Haji

Waspada Dehidrasi Dan Heat Stroke Saat Haji

Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KHOM, FACP, FINASIM, dari Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia mengatakan saat berada di Tanah Suci, cuaca panas menyengat bisa memberikan masalah kesehatan. Disebutkan dr Ari, suhu udara di Makkah dan Madinah bahkan bisa mencapai 40 derajat Celcius.

Baca Juga: Mekkah Yang Dirindukan

“Saat ini cuaca di Makkah maupun Madinah Haji cukup panas, siang hari lebih dari 40 derajat Celsius. Yang perlu diantisipasi atas suhu udara yang tinggi ini adalah terjadinya dehidrasi,” tuturnya.

“Jika tidak diantisipasi lebih lanjut kondisi panas ini dapat menyebabkan terjadi heat stroke, suatu keadaan mengancam jiwa akibat suhu tubuh yang meningkat sampai 40 derajat Celcius akibat suhu di luar yang tinggi,” tulis dr Ari dalam surat elektronik kepada wartawan, baru-baru ini.

Dengan cuaca yang panas dan aktivitas luar ruangan yang dilakukan para jemaah haji, kebutuhan air harus sangat tercukupi. Dikatakan dr Ari, kebutuhan cairan tubuh akan meningkat karena cuaca panas. Ia pun menyarankan agar jemaah haji mengonsumsi air 3-4 liter tiap harinya.

“Selama di masjid diusahakan untuk tetap minum, tempat-tempat penampungan minum yang berisi air zam-zam selalu tersedia di dalam dan di seputar Masjid Nabawi,” tambahnya.

Hindari konsumsi minuman yang bersifat diuretik dan mempercepat proses buang air kecil seperti teh, kopi dan minuman bersoda. Minuman ini mengandung kafein yang dapat memperberat risiko dehidrasi.

Selain faktor cuaca, keadaan lain yang bisa menimbulkan masalah kesehatan adalah rasa lelah akibat perjalanan. Aktivitas ibadah termasuk pulang dan pergi ke masjid, melakukan tawaf dan ziarah terkadang membuat rasa lelah terabaikan. Padahal, risiko kesehatan juga mengancam tubuh yang lelah.

“Rasa bersyukur dan ingin segera melihat Masjid Nabawi serta ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW kadang kala mengalahkan rasa lelah yang ada selama perjalanan dan sampai di penginapan. Oleh karena itu hal yang perlu dicermati oleh para jamaah dan para pimpinan kelompok adalah agar bagi para jemaah tersedia waktu istirahat yang cukup setelah sampai di penginapan,” tutupnya.

Tips Sehat Saat Ibadah Haji Ziarah Expedia Wisata

Tips Sehat Saat Ibadah Haji Ziarah Expedia Wisata

Tips Sehat Saat Ibadah Haji Ziarah Expedia Wisata

Cuaca panas yang mencapai 40 derajat Celcius membuat para jemaah haji berisiko mengalami dehidrasi dan stroke. Belum lagi risiko kelelahan akibat perjalanan panjang yang bisa memicu kambuhnya penyakit bawaan.

Baca Juga: Mekah Yang Dirindukan

Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, FACP, FINASIM, dari Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, mengatakan udara panas dan aktivitas di udara terbuka merupakan sumber utama masalah kesehatan bagi jemaah haji di Tanah Suci.

“Selain faktor cuaca, keadaan lain yang dapat memperburuk kesehatan para jemaah adalah kelelahan akibat perjalanan yang lama dan melelahkan,” tutur dr Ari, dalam keterangan tertulis kepada wartawan, baru-baru ini.

Agar ibadah haji tetap khusyuk, khidmat dan bebas dari masalah kesehatan, ada 4 langkah yang harus dilakukan oleh jemaah di Tanah Suci. Apa saja? Berikut penjabarannya:

1. Cukupi kebutuhan air minum

Cuaca panas meningkatkan risiko jemaah haji mengalami dehidrasi dan heat stroke. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berbahaya dan bahkan mengancam nyawa. Untuk itu, dr Ari menyarankan agar konsumsi cairan diperbanyak untuk memastikan kebutuhan tercukupi.

“Oleh karena itu yang utama adalah tetap mempertahankan minum 3-4 liter. Makin sering terpapar udara panas jumlah cairan yang diminum juga harus ditingkatkan,” tandasnya.

Perhatikan juga warna air urine. Air urine yang berwarna keruh dan cokelat kekuningan menandakan tubuh sedang dehidrasi. Hindari konsumsi minuman berkafein seperti kopi dan soda karena dapat memperberat dehidrasi.

2. Jangan abaikan istirahat

Aktivitas ibadah yang padat, jarak dari penginapan menuju masjid yang jauh, serta perjalanan panjang membuat tubuh rentan mengalami kelelahan. dr Ari mengingatkan bahwa istirahat sangat penting saat melakukan ibadah haji dan tidak boleh diselepekan.

“Rasa bersyukur dan ingin segera melihat Masjid Nabawi serta ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW kadang kala mengalahkan rasa lelah yang ada selama perjalanan dan sampai di penginapan. Oleh karena itu hal yang perlu dicermati oleh para jemaah dan para pimpinan kelompok adalah agar bagi para jemaah tersedia waktu istirahat yang cukup setelah sampai di penginapan,” ungkapnya.

3. Perhatikan jadwal makan

Salah satu yang menjadi perhatian dr Ari adalah sering terlupanya jadwal makan oleh para jemaah. Hal ini membuat jemaah haji asal Indonesia akhirnya jajan di pinggir jalan yang kebersihan dan kualitas makanannya belum tentu terjaga.

Menurut dr Ari, pemberian makanan yang resmi dari katering penyelenggara ibadah haji disertai keterangan kapan makanan tersebut dapat dikonsumsi dan kapan tidak dapat dikonsumsi lagi. Oleh karena itu, memerhatikan jadwal makan sangat penting untuk menghindari risiko infeksi kuman dari makanan pinggir jalan yang tidak bersih.

“Aktivitas ibadah termasuk pergi dan pulang dari penginapan dan ke mesjid akan menghabiskan energi kita. Oleh karena itu harus diimbangi makan yang cukup. Apabila asupan makan kita tidak baik tentunya secara umum hal ini juga akan mempengaruhi daya tahan tubuh kita,” tandasnya.

4. Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin

Terakhir dan tak kalah penting, dr Ari mengingatkan agar para jemaah selalu melakukan pemeriksaan kesehatan rutin oleh petugas kesehatan yang berjaga. Jika ada masalah, segera laporkan ke petugas untuk mendapatkan penanganan.

“Hal ini penting agar gangguan kesehatan yang terjadi dapat segera diatasi dan tidak berlarut. Perlu diingat karena kontak satu jemaah dengan jemaah lain cukup dekat maka jika ada salah satu jemaah yang mengalami flu berupa batuk pilek akan mudah menularkan kepada yang lain,” tuturnya.

Jangan lupa juga untuk mengonsumsi obat-obatan rutin bagi pasien penyakit kronis untuk menghindari kekambuhan di Tanah Suci.

Tips Berpakaian Ihram Ziarah Expedia Wisata

Tips Berpakaian Ihram Ziarah Expedia Wisata

Tips Berpakaian Ihram Ziarah Expedia Wisata

Para jemaah haji diwajibkan untuk mengenakan pakaian ihram selama menjalankan rukun haji. Berikutbeberapatips yang bisa dipakai agar pakaian ihram nyaman dan tidak lepas saat dikenakan.

Baca Juga: Tips Membawa Barang Selama Haji

Dalam website Kementerian Agama disebutkan para jemaah pria memakai dua helai kain yang tidak berjahit, satu diselendangkan di bahu dan satu disarungkan menutupi pusar sampai dengan lutut. Berikut langkah-langkahnya:

Satu helai kalian untuk bagian bawah badan.

1. Kedua kaki jangan dirapatkan tapi dibuka lurus bahu.

2. Bentangkan kain lalu lilitkan melingkari pinggang. Bagian kiri lebih panjang.

3. Bagian kanan ditarik ke pinggang kiri. Sisa kain di kanan ditarik ke bagian tengah. Lalu gulung seperti menggunakan sarung.

4. Agar tidak melorot sebaiknya memakai sabuk, posisinya di atas pusar. Gulung kembali hingga sabuk tidak terlihat.

5. Kain ihram harus dipakai menutupi pusar dan di atas mata kaki atau sampai betis. Hal ini karena aurat laki-laki adalah dari pusar hingga ke lutut.

Coba posisi jongkok untuk memastikan bagian bawah tertutup sempurna.

Selesai untuk pakaian bagian bawah. Selanjutkan kain kedua digunakan untuk pakaian ihram bagian atas.

1. Bentangkan kain di bagian belakang punggung. Kain bagian kanan lebih panjang.

2. Tarik kain yang ada di tangan kanan melingkari leher. Kedua bahu tertutup kain.

Posisi ini biasa digunakan untuk salat,sai dan ibadah lainnya selain tawaf.

Untuk tawaf pakain Ihram digunakan dengan cara idtiba, yaitu dengan membuka bahu sebelah kanan dan membiarkan bahu sebelah kiri tertutup kain Ihram.

Caranya tarik kain yang ada di tangan kanan melalui bawah ketiak lalu diselempangkan ke belakang ke arah bahu kiri. Sehingga bahu kanan terlihat.

Tips tambahan:

– Pilih bahan yang menyerap keringat dan tidak panas.

– Pastikan gerakan tangan, kaki dan lainnya tidak terkekang dengan kain Ihram.

– Bagi jemaah yang berbadan gemuk bisa menggunakan salep di sekitar paha agar tidak lecet.

Keyword: Tips Berpakaian Ihram Ziarah Expedia Wisata Tips Berpakaian Ihram Ziarah Expedia Wisata

Tips Menggunakan ATM Di Masjidil Haram Ziarah Expedia Wisata

 Tips Menggunakan ATM Di Masjidil Haram Ziarah Expedia Wisata

Tips Menggunakan ATM Di Masjidil Haram Ziarah Expedia Wisata

Para jamaah haji sudah dibekali living cost SAR 1.500 untuk biaya selama di Arab Saudi. Bagaimana bila kurang? Cukup menukar riyal dengan rupiah atau mengambil di ATM dalam bentuk riyal.

Baja Juga: Tips Membawa Barang Selama Haji

Bila uang Anda habis, termasuk uang saku yang SAR 1.500 yang dibawa dari Indonesia, Anda bisa memilih dua alternatif pengambilan uang. Pertama, bisa mengambil ATM di sekitar Masjidil Haram. Namun ada yang perlu diperhatikan, yakni logo ATM bank yang akan dipilih. Pastikan ATM tersebut sesuai dengan jaringan bank anda di Indonesia.

Salah satu lokasi ATM yang paling banyak dipakai berada di area Zam Zam Tower (bangunan dengan menara jam di atasnya). Di sana, ada sejumlah ATM yang bisa digunakan oleh warga Indonesia. Yang terbanyak, berada di lantai 1. Uang akan keluar dalam bentuk riyal dengan kurs terkini dan ada biaya administrasi bank yang harus dibayarkan.

Seorang jamaah sudah mencoba menarik ATM dari salah satu bank yang memiliki logo jaringan visa. Saat menarik uang, ada pilihan bahasa Arab dan Inggris. Prosesnya sama dengan ATM di Indonesia. Nantinya, uang yang keluar dalam bentuk riyal, termasuk laporan sisa saldo.

Kedua, Anda bisa menukar uang di money changer yang tersebar di sekeliling Masjidil Haram. Di tempat penukaran uang itu, Anda bisa langsung menukar rupiah ke riyal, atau juga dari dolar amerika ke riyal. Kursnya per 10 Agustus lalu adalah Rp 1.000.000 senilai SAR 284 atau Rp 3.521 per riyal.

Dari dua cara tersebut, cara paling praktis tentu saja menggunakan ATM karena terhindar dari membawa uang tunai terlalu banyak. Kepala Sektor Khusus Masjidil Haram Daerah Kerja Makkah Ali Nurokhim mengatakan, ada sejumlah jamaah yang kadang membawa uang tunai banyak, bahkan ada yang pernah mencapai Rp 100 juta.

Bagi pria yang sudah tiga tahun bekerja sebagai bagian perlindungan jamaah saat berhaji ini, membawa uang tunai banyak bisa menimbulkan risiko, seperti menjadi korban kejahatan atau kehilangan. Karena itu, alternatifnya adalah membawa uang secukupnya saja untuk keperluan membeli makanan atau minuman, sisanya bisa mengambil via ATM.

“Uang secukupnya saja. Paling buat makan di sekitar masjidil Haram,” kata Ali.

Harga makanan standar di sekitar Masjidil Haram bervariasi. Untuk makaman berat, ada yang bertarif SAR 10 sampai SAR 15 untuk jenis kebab dan nasi plus ayam. Bagi Anda penyuka makanan cepat saji, bisa membeli paket seharga SAR 23. Namun untuk jajanan seperti kebab dan makanan ringan, ada yang berkisar harganya SAR 2. Untuk minum, tak perlu khawatir sebab di sekeliling masjid terdapat air keran yang bisa diminum, dan di dalam masjid ada area minum air zamzam.

Tips Kesehatan Bagi Lansia Saat Ibadah Haji Ziarah Expedia Wisata

 Tips Kesehatan Bagi Lansia Saat Ibadah Haji Ziarah Expedia Wisata

Tips Kesehatan Bagi Lansia Saat Ibadah Haji Ziarah Expedia Wisata

Dalam sebuah rombongan jemaah haji, ada yang masih berusia muda, namun tak sedikit juga yang sudah lanjut usia. Bagi mereka yang secara fisik sudah tak kuat, ada beberapa tips kesehatan yang bisa bermanfaat selama menjalankan ibadah, terutama di Makkah, Arab Saudi.

Baca Juga: Perbedaan Haji Dan Umroh

dr Ramon Andrias, Kasi Penghubung Kesehatan Daker Makkah memberikan sejumlah saran agar para lansia bisa menjalankan ibadah haji secara maksimal. Yang pertama, perbanyak minum air selama proses ibadah, karena cuaca di Makkah saat ini cukup terik.

“Minimal 2 liter per hari atau minimal 8 gelas, supaya tidak dehidrasi,” kata dr Ramon.

Selain itu, ada hal penting lain yang perlu diperhatikan para jemaah lansia. dr Ramon mengingatkan agar para jemaah memperhatikan kemampuan tubuhnya untuk beribadah. Sebab, sebagian besar ritual haji berhubungan dengan ibadah fisik. Sehingga membutuhkan kondisi tubuh yang prima.

Berdasarkan pengalamannya bertugas di Makkah, dr Ramon melihat banyak lansia yang berada satu rombongan dengan anak-anak muda. Nah, ada perasaan ‘kecil’ ketika para anak muda itu rajin ibadah, sementara yang tua beristirahat. Sehingga kadang, orang-orang yang lanjut usia tetap memaksakan diri beribadah padahal sebetulnya sudah sangat kelelahan.

“Kenapa orang banyak jatuh di masjid atau meninggal di jalan, karena terlau mengikuti temannya yang mampu. Padahal dia sudah nggak sanggup,” terangnya.

dr Ramon menyarankan, para jemaah lansia harus cukup beristirahat dan fokus untuk mengikuti puncak haji seperti wukuf di Arafah dan rukun lainnya. Saat momen penting itu, tubuh harus dalam kondisi prima.

Ke depan, dr Ramon menyarankan agar sosialiasi soal kesehatan ini bisa disampaikan ketika proses manasik haji. Para jemaah harus diedukasi, bahwa menjaga kesehatan dan kondisi selama haji itu penting.

Selain fisik yang kelelahan, para jemaah lansia juga kadang terkena demensia. Ini adalah sebuah kondisi di mana para jemaah mengalami kemunduran proses berpikir, sehingga tak sadar ada di mana, lupa hari dan waktu. Ini terjadi juga karena faktor kelelahan.

Tips Mencari Toilet Terdekat Di Masjidil Haram Ziarah Expedia Wisata

Tips Mencari Toilet Terdekat Di Masjidil Haram Ziarah Expedia Wisata

Tips Mencari Toilet Terdekat Di Masjidil Haram Ziarah Expedia Wisata

Area utama Masjidil Haram tak memiliki toilet. Anda harus berjalan ke luar untuk menemukannya. Kenali lokasi Anda dan cari toilet terdekat agar tidak berputar-putar.

Baca Juga: Perbedaan Haji Dan Umroh

Menjelang puncak haji, Masjidil Haram semakin hari semakin padat. Jemaah datang dari berbagai negara untuk beribadah. Tak hanya arena ibadah, namun toilet pun selalu penuh setiap saat. Anda harus memahami titik-titik lokasi toilet agar tidak salah jalan, sebab saat ini proyek perluasan masih berlangsung, sehingga tak semua akses jalan terbuka.

Berbeda dengan toilet, khusus untuk tempat berwudhu lebih mudah diakses dan ditemukan. Lokasinya ada di pelataran, halaman sampai di dalam masjid, tepatnya di dekat jalan menuju arena sa’i.

Nah, untuk toilet, ada beberapa yang mudah ditemukan, namun tak sedikit juga butuh usaha ekstra untuk mencarinya. Berikut beberapa titik toilet dan cara menemukannya dari lokasi Anda berada:

1. Datang dari arah terminal Ajyad

Bila Anda datang dari arah terminal Ajyad atau rumah sakit Ajyad, maka toilet besar akan terlihat jelas di sebelah kiri menjelang pintu utama Masjidil Haram. Tulisan WC terlihat jelas dengan gambar untuk menandakan toilet pria dan wanita.

Seandainya toilet tersebut penuh, Anda bisa mencari alternatif toilet di tower zamzam. Di dalam mal tersebut, mulai dari lantai 1 ada toilet untuk laki-laki di sayap mal sebelah kanan, dan wanita di sayap mal sebelah kiri, atau di lantai atas.

2. Berada di pelataran masjid gerbang King Fahd

Bila Anda datang dari arah Misfalah, lalu hendak mencari toilet, atau keluar dari dalam masjid melalui gerbang utama King Fahd, maka sebaiknya mencari toilet bawah tanah. Posisinya ada di depan hotel Hilton dan Dar Al Tawhid. Jangan sampai tertukar dengan jalur bawah tanah menuju arena penjemputan. Perhatikan logo dan tulisan WC serta gambar pria atau wanita. Sebab toilet pria dan wanita terpisah dan jaraknya cukup berjauhan.

3. Berada di arena Sa’i

Bila Anda sedang berada di arena sa’i dan hendak ke toilet maka tidak perlu berjalan ke luar menuju gerbang utama King Fahd. Keluar saja lewat pintu Marwah lalu berjalan sekitar 100 meter ke arah bangunan bertuliskan WC. Di sini juga terpisah toilet untuk wanita dan pria, sehingga perlu diperhatikan gambarnya.

Untuk pria, tidak ada toilet untuk buang air kencing sambil berdiri di Masjidil Haram. Semua toilet menggunakan pintu. Dengan demikian, antrean yang ada kadang cukup panjang. Sedikit tips saat mengantre, sebaiknya tidak menunggu antrean di luar lorong, namun masuk ke dalam dan menunggu di depan pintu, agar mendapat giliran lebih cepat.

Selain itu, dalam jam-jam sibuk dan padat seperti salat fardlu atau salat Jumat, sebaiknya Anda menggunakan toilet sebelum masuk ke dalam masjid. Sebab, bila di tengah waktu salat atau khotbah Jumat, ada kemungkinan bila Anda keluar dulu ke toilet, maka akan kesulitan kembali untuk masuk.