Hukum Sholat Arbain Dalam Haji Ziarah Expedia Wisata

Hukum Sholat Arbain Dalam Haji Ziarah Expedia Wisata

Hukum Sholat Arbain Dalam Haji Ziarah Expedia Wisata

Setiap kali akan melaksanakan ibadah haji, maka jamaah haji Indonesia akan menetap di Madinah minimal 8 hari untuk pelaksanaan ibadah sholat Arba’in. Rutinitas ini pun kemudian menjadi sebuah ibadah tetap yang dilaksanakan jamaah haji Indonesia setiap tahunnya.

Baca Juga: Perbadaan Haji Dan Umroh

Pertanyaannya kemudian yang harus diajukan adalah, apakah dasar hukum shalat Arbain dalam pelaksanaan haji? Dan tentu tidak banyak orang yang tahu, sehingga kami merasa perlu untuk mengulasnya sedikit, meskipun sebenarnya sudah banyak tulisan dan makalah yang membahasnya.

Arba’in atau Arba’un dari sisi bahasa merupakan kata Bahasa Arab yang berarti empat puluh. Pemahaman empat puluh dalam hal ini dikaitkan dengan waktu tertentu, sehingga pelaksanaan ibadah Arbain adalah shalat di Masjid Madinah atau Masjid Nabawi selama empat puluh kali.

Di samping itu pemahaman masyarakat awam berkembang bahwa yang dimaksud dengan shalat Arba’in di Masjid Nabawi adalah shalat empat puluh kali berturut-turut dengan catatan bisa bertakbiratul ihram dengan imam.

Sebelum kita mengulasnya lebih jauh, ada catatan penting yang harus diingat terlebih dahulu, yaitu dasar penting dalam pengamalan agama di dalam Fikih Islam didasarkan pada 4 hal:

  1. Al-Quran
  2. Hadits Nabi
  3. Ijma’ Ulama
  4. Qiyas.

Sehingga setiap permasalahan hukum di dalam Islam baik yang berhubungan dengan Ibadah (hubungan hamba dengan Khaliq) atau pun Muamalah (hubungan Hamba dengan hamba dan kehidupan sekitarnya), harus merujuk kepada empat hal di atas, dengan urutan yang tidak boleh dibolak-balik.

Jika dalil ditemukan dalam Al-Quran, maka tidak perlu dipertanyakan lagi keabsahannya, tetapi ketika kita menemukan dalil dari Hadits Nabi, maka pengamalan terhadap Hadits tersebut tidak boleh langsung dilakukan, sampai terbukti dengan jelas derajat dari Hadits tersebut.

Jika Hadits tersebut sampai pada derajat Shahih dan Hasan, maka tentunya sebuah Hadits boleh diamalkan, sebaliknya jika derajat Haditsnya Dha’if (lemah), maka tentunya tidak boleh diamalkan.

Jumhur ulama Hadits sendiri membenarkan penggunaan Hadits Dhai’f dengan tingkat kelemahan ringan pada masalah Fadhailul A’mal, yaitu hal-hal yang menjelaskan keutamaan amalan-amalan yang sudah ditetapkan berdasarkan Hadits yang shahih atau Hasan. Sedangkan Hadits Dhai’f dengan tingkat kelemahan yang berat tidak boleh digunakan baik pada masalah penetapan hukum maupun juga dalam hal Fadhailul A’mal. Dan aturan sanad (periwayatan) yang ketat ini merupakan kelebihan umat Muhammad yang tidak dimiliki oleh umat lainnya.

Untuk itu, dalam masalah shalat Arba’in, jika kita melihat lebih lanjut, maka dasar rujukan untuk pelaksanaan ibadah ini adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad dan Imam Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausat, yang berbunyi:

عَنْ نبيط بن عمر عن أنس بن مالك عن النبى -صلى الله عليه وسلم- أَنه قال : من صلى فى مسجدى أربعين صلاة لا يفوته صلاة كتبت له براءة من النار ونجاة من العذاب وبرئ من النِفاق

Dari Nubaith bin Umar dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barang siapa yang mengerjakan empat puluh shalat di masjidku dalam keadaan tidak tertinggal satu pun shalat maka akan dicatat untuknya pembebasan dari api neraka dan keselamatan dari kemunafikan”.

Para ulama Hadits berbeda pendapat tentang keabsahan Hadits ini karena Ibnu Hibban memasukkan perawi Hadits ini yang bernama Nubaith bin Umar ke dalam kitabnya Ats-Tsiqaat. Padahal Nubaith bin Umar ini tidak dikenal (Majhul), dan para ulama Hadits menjelaskan bahwa Ibnu Hibban memakai standar longgar dalam kitab ini, yaitu memasukkan orang-orang yang Majhul dalam kelompok rawi yang terpercaya (Tsiqah).

Nashirudin Al-Albani, seorang kritikus Hadits modern, dalam Silsilah Al-Dhai’fah dan Dha’if Al-Targhib, mengomentari Hadits di atas dengan munkar (informasi Hadits hanya dari satu jalur). Bahkan dalam kitab Manasik Haj wal Umrah, beliau (Al-Albani) membuat bab : Bid’ah-bid’ah Ziarah di Madinah Al-Munawarah. Lalu pada hal. 63 beliau berkata, “Menetapnya para penziarah di Madinah selama seminggu sehingga dapat melaksanakan empat puluh shalat di Masjid Nabawi dengan tujuan berlepas dari kenifakan dan dari neraka”. Kemudian memberi catatan kaki, “Hadits yang berkaitan dengan hal itu tidak shahih dan tidak dapat dijadikan hujjah. Aku telah jelaskan cacatnya pada Silsilah Dha’ifah no. 364”.

Akan tetapi, orang-orang yang menganggap bahwa Shalat Arba’in ini memang diperintahkan, kemudian menguatkan pendapatnya dengan Hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi yang berbunyi:

عن أَنس بن مالك قال قالَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- من صلى للَّه أربعين يوما فى جماعة يدرك التكبيرة الأُولى كتبت له براءتان براءة من النار وبراءة من النفاقِ

Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mengerjakan shalat secara ikhlas karena Allah selama empat puluh hari dengan berjamaah dan dengan mendapatkan takbiratul ihram maka dicatat untuknya dua kebebasan, bebas dari neraka dan bebas dari kemunafikan”. (HR ar-Tirmidzi no. 241).

Al-Albani di dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib 1/98 no. 409 menyebutkan bahwa derajat Hadist ini adalah Hasan, sedangkan Al-‘Iraqi dalam Takhrij Ahadits Ihya Ulumiddin 1/334 mengatakan bahwa para perawinya tsiqah.

Secara umum, matan (isi) Hadits ini memang mirip dengan Hadits sebelumnya pada beberapa hal:

  1. Memuat kalimat empat puluh
  2. Pembebasan dari api neraka dan kemunafikan

Akan tetapi jika kita mau melihat secara lebih teliti, maka isi Hadits yang kedua sama sekali berbeda dengan isi yang terdapat pada Hadits yang pertama. Perhatikan matan (isi) hadits yang kedua:

  1. Shalat yang diperintahkan dalam waktu empat puluh hari atau sebanyak 200 shalat, bukan delapan hari atau 40 shalat
  2. Shalat dilakukan dengan berjamaah tanpa menyebutkan tempat atau pengkhususan tempat tertentu seperti Masjid Nabawi yang terdapat pada Hadits yang pertama, yang sudah diketahui kemajhulannya.

Untuk itu, menggabungkan Hadits pertama dan kedua dengan metode penggabungan Hadits yang terkenal di kalangan ulama Hadits tentu tidak berdasar. Sehingga jelas bahwa pelaksanaan ibadah shalat Arba’in tidak ada rujukan yang shahih dari agama.

Untuk itu, setiap jamaah haji yang menetap minimal delapan hari di Madinah, menurut hemat kami, tidak perlu meniatkan untuk ibadah shalat Arba’in yang tidak berdasar pada Hadits yang Shahih. Tapi hendaknya tinggal di sana dengan niat agar bisa ibadah di salah satu mesjid dari tiga mesjid yang mempunyai keistimewaan dari mesjid-mesjid lainnya di bumi ini, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsha.

Di samping itu, juga terdapat Hadits lainnya yang menjelaskan keistimewaan shalat di Masjid Nabawi.

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: صلاة في مسجدي هذا خير من ألف صلاة فيما سواه، إلا المسجد الحرام

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw bersabda : “Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. ” (HR. Al-Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 505).

Sholat Arbain Yang Dianjurkan Nabi Ziarah Expedia Wisata

Sholat Arbain Yang Dianjurkan Nabi Ziarah Expedia Wisata

Sholat Arbain Yang Dianjurkan Nabi Ziarah Expedia Wisata

Shalat Arba’in cukup dikenal oleh masyarakat haji Indonesia, yaitu shalat berjamaah sebanyak 40 kali berturu-turu di masjid Nabawi Madinah dan tidak boleh tertinggal takbiratur ihram. Menurut versi haditsnya yang lemah, keutamaannnya sangat banyak. Haditsnya yaitu,

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً، لاَ يَفُوتُهُ صَلاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

“Barang siapa shalat di masjidku empatpuluh shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan.”

Baca Juga: Perbedaan Haji Dan Umroh

Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Al-Albany dalam Silsilah Adh-Dhaifah, no. 364, dalam kitab lainnya sedangkan dalam kitab  “Dhaif At-Targhib”, no. 755, beliau mengatakan, “Munkar”.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baz (Mufti utama Arab Saudi di masa silam) rahimahullah menjelaskan,

Adapun yang banyak beredar di tengah masyarakat bahwa orang yang berziarah (ke Madinah) dan menetap di sana selama 8 hari agar dapat melakukan shalat arbain (40 waktu). Meskipun ada sejumlah hadits yang diriwayatkan, bahwa siapa yang shalat empat puluh waktu, akan dicatat baginya kebebasan dari neraka dan kebebasan dari nifaq, hanya saja haditsnya dhaif menurut para ulama peneliti hadits. Tidak dapat dijadikan hujjah dan landasan. Berziarah ke Masjid Nabawi tidak ada batasannya, apakah berziarah sejam atau dua jam, sehari atau dua hari atau lebih dari itu, tidaklah mengapa.”1

Hadits arbain yang boleh dan ada dasarnya

Terdapat hadits lain mengenai shalat Arbain yang shahih, akan tetapi berbeda dengan sebelumnya. Hadits tersebut:

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.

Barang siapa yang shalat karena Allah empat puluh hari secara berjamaah tanpa ketinggalan takbir yang pertama, dicatatkan baginya dua kebebasan; kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan2

Perbedaan dengan sebelumnya adalah dilakukan selama 40 hari (bukan delapan hari) dan tidak mesti harus di Masjid Nabawi, bisa di masjid mana saja. Insya Allah orang yang rutin shalat berjamaah di masjid tepat waktu akan mudah mendapatkan keutamaan ini. Semoga kita dimudahkan oleh Allah melaksanakannya.

Beberapa catatan mengenai shalat arbain

Shalat Arbain juga memberikan beberapa konsekuensi karena harus berturut-turut dan tidak boleh tertinggal takbiratur ihram bersama imam.

  1. Terkadang kita ketiduran, kurang fit atau terlalu capek akhirnya kita agak terlambat, kemudian pasti akan terburu-buru bahkan berlari kencang untuk mengejar takbiratur ihram bersama imam. Padahal tubuh sedang tidak fit atau sedang sakit. Ini juga menyalahi sunnah agar datang ke masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, adapun yang tertinggal bisa di sempurnakan setelahnya. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

    Jika kalian mendengar iqamat, berjalanlah untuk shalat dengan tenang dan wibawa, jangan terburu-buru, shalatlah bersama imam sedapatnya, dan sempurnakan sendiri bagian yang tertinggal.”3

  2. Ketika tertinggal takbiratul ihram shalat Arba’in atau ketiduran maka jamaah akan merasa sangat sedih sekali. Padahal mayoritas jamaah haji dan umrah umumnya pernah tertinggal takbiratur ihram, baik karena sakit, kecapekan, ketiduran atau mengurus keluarga yang sakit. Mereka sangat sedih tidak mendapatkan keutamaan shalat Arba’in. Akibatnya mereka murung, tidak semangat dan bisa jatuh sakit karena memang tujuan utama mereka di Madinah adalah shalat Arbain.
  3. Beberapa jamaah yang tidak diprogram tinggal di Madinah selama 8 hari, memaksakan diri dan terkadang bekal tidak cukup, rela ditinggal rombongan karena benar-benar ingin mengejar 40 shalat Arba’in.
  4. Terlalu fokus ibadah di Madinah dan memaksakan diri, padahal lebih diutamakan shalat dan ibadah di Masjdil Haram Makkah karena memang lebih banyak keutamaannya.
  5. Jamaah haji wanita juga terkadang kecewa, ketika sedang semangat Shalat Arbain atau sedang akan sempurna, tiba-tiba datang haid. Bisa jadi uring-uringan dan tidak semangat lagi. Bagi jamaah wanita lebih baik merenungi hadits bahwa shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi karena seorang sahabat wanita dinasehatkan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam agar shalat di rumahnya karena lebih baik dari shalat di masjid nabawi. Akan tetapi tidak masalah juga shalat di masjid nabawi dengan keutamaannya, lebih-lebih kesempatan ini sangat jarang bagi jamaah Indonesia.

Berikut haditsnya:

عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي»

Dari Ummu Humaid –istri Abu Humaid as-Sa’idi-bahwa ia telah datang kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata, “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu  lebih baik bagimu dari shalat di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu dari shalat di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu dari shalat di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalat di masjid Nabawi.4

Demikian semoga bermanfaat.