Hukum Dan Syarat Haji Ziarah Expedia Wisata

Hukum Dan Syarat Haji Ziarah Expedia Wisata

Naik haji bagi yang mampu adalah rukun islam yang kelima. Haji menurut bahasa adalah Al-Qashdu artinya menyengaja, sedangkan menurut istilah syara’ berarti suatu amal ibadah yang dilakukan denga sengaja mengunjungi Baitullah di Mekah dengan maksud beribadah dengan ikhlas mengharap keridhaan Allah dengan syarat dan ketentuan tertentu.
Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 dzulhijjah ketika umat islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 dzulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan ) pada tanggal 10 dzulhijjah, masyarakat indonesia biasa menyebut juga hari raya idul adha sebagai hari raya haji kerena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.
HUKUM HAJI
Haji hukumnya wajib bagi orang-orang yang sudah mampu seumur hidup sekali. Bagi mereka yang mengerjakan haji lebih dari satu, maka hukumnya sunah. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran Ayat 97:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya:  Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh Alam. (QS. Ali Imran:97). Ayat ini adalah dalil tentang wajibnya haji. Kalimat dalam ayat tersebut menggunakan kalimat perintah yang berarti wajib. Kewajiban ini dikuatkan lagi pada akhir ayat (yang artinya), “Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. Di sini, Allah menjadikan lawan dari kewajiban dengan kekufuran. Artinya, meninggalkan haji bukanlah perilaku muslim, namun perilaku non muslim.
Selain itu, dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16). Hadits ini menunjukkan bahwa haji adalah bagian dari rukun Islam. Ini berarti menunjukkan wajibnya.
SYARAT WAJIB HAJI
Syarat wajib haji adalah kondisi (syarat-syarat) yang apabila terpenuhi pada seseorang, maka orang tersebut waib menunaikan haji. Tetapi jika tidak terpenuhi seluruh syaratnya maka orang tersebut tidak wajib menunaikan haji. Berikut syarat wajib haji:
1. Beragama Islam
Semua ibadah yang dikerjakan tidak akan sah jika dikerjakan oleh orang kafir. Berdasarkan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 54
وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ
Artinya: “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya.” (QS. At-Taubah: 54)
2. Berakal sehat / tidak gila
Orang-orang yang sakit jiwa atau gila tidak diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji sampai ia sembuh. Jika orang tersebut menunaikan ibadah haji, maka hajinya dianggap tidak sah.
3. Baligh
Berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاثَةٍ؛ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ ، وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ ، وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ
“Pena Diangkat (kewajiban digugurkan) dari tiga (golongan); Orang yang tidur sampai bangun, anak kecil hingga bermimpi (baligh), dan orang gila hingga berakal (sembuh).” (HR. Abu Daud, no. 4403, dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Abu Daud). Maka anak kecil tidak diwajibkan haji. Akan tetapi kalau walinya menghajikannya, maka hajinya sah dan pahala haji bagi anak kecil dan walinya juga. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam ketika ada seorang wanita mengangkat anak kecilnya dan bertanya, “Apakah anak ini dapat melakukan haji? Beliau menjawab, “Ya, dan bagimu mendapat pahala.” (HR. Muslim)
Akan tetapi anak kecil yang telah berhaji, tidak menggugurkan kewajiban hajinya setelah ia baligh nanti. Jadi ia masih berkewajiban untuk menunaikan ibadah haji jika sudah akil baligh dan juga terpenuhi syarat-syarat haji lainnya.
4. Merdeka
Seorang budak tidak diwajibkan untuk berhaji karena ia sibuk memenuhi hak tuannya. Jika ia telah bebas merdeka dan mampu, maka ia wajib menunaikan ibadah haji
5. Mampu
Allah SWT berfirman
 وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97). Hal ini mencakup kemampuan fisik dan kemampuan harta.
Kemampuan fisik diantaranya adalah berbadan sehat atau bebas dari penyakit yang dapat menghalangi untuk melaksanakan ibadah haji. Hal ini dapat dibutikan dengan keterangan dari dokter ahli. Selain itu juga tidak lemah karena usia lanjut, yang dikhawatirkan akan beresiko fatal atau terjadi hal yang tidak diinginkan jika tetap pergi haji.
Sedangkan kemampuan harta adalah mempunyai nafkah yang dapat mengantarkannya ke Baitullah pulang dan pergi, cukup nafkah untuk memenuhi kebutuhan pokok untuk dirinya dan keluarga yang ditinggalkannya, serta penunaian utang. Khusus untuk perempuan, ada syarat mampu tambahan lainnya yaitu ditemani suami atau mahromnya, dan tidak berada dalam masa iddah.
Siapa saja yang termasuk mahram wanita? Secara bahasa, mahram diambil dari kata hurmah, yang artinya adalah sesuatu yang tidak halal dilanggar. Menurut syariat, kata al-Kasani2 dalam Bada’iush Shana’i (2/124), “Mahram seorang wanita adalah lelaki yang tidak boleh menikahi si wanita selama-lamanya. Bisa jadi, karena hubungan nasab antara keduanya, atau hubungan persusuan, atau hubungan yang terjadi karena pernikahan. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Mahram adalah suami seorang wanita atau lelaki yang haram menikahi si wanita selama-lamanya karena ada hubungan darah/nasab atau dengan sebab mubah. Contoh mahram seorang wanita adalah ayahnya, anak laki-lakinya, saudara laki-laki, keponakan laki-laki dari saudara laki-laki atau dari saudara perempuan, kakek, paman dari pihak ayah (‘ammu) atau pihak ibu (khal), ayah mertua, menantu (suami dari putrinya).” (Al-Mughni)

Kualitas Dari Kemabruran Haji

Kualitas Dari Kemabruran Haji

Mampu melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci dan kembali dalam keadaan sehat wal afiyat merupakan dambaan dan cita-cita setiap kaum muslim dimanapun berada.

Baca Juga: Dibalik Sholat Dhuha

Haji merupakan ibadah yang meniscayakan terkumpulnya tiga perkara: kecukupan dana, kesehatan jasmani dan rohani: serta tersedianya waktu/ kesempatan/momentum. Sehingga ketiga-tiganya hendaknya dipelihara dengan baik sejak dari masa keberangkatan hingga kepulangan.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata,

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »

“Nabi SAW ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau Nabi SAW menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)

Berbahagialah para jamaah haji yang dapat melaksanakan rukun Islam kelima dengan lancar dan khusu’. Alhamdulillah, semoga semua akan meraih haji mabrur, sehingga Allah SWT pada saatnya nanti insyaallah akan memenuhi janji-Nya dengan memberikan balasan berupa surga.

Nabi SAW bersabda,

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)

Namun, mabrurnya ibadah haji sesungguhnya bukan hanya terletak pada pelaksanaan, melainkan juga masa-masa sesudah pelaksanaan haji. Bagaimana hubungannya dengan akhlak dan muamalah, harus beda khan? Semakin baik dan semakin bermanfaat.

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang haji yang mabrur. Jawaban beliau,

إطعام الطعام و طيب الكلام

“Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutar kata yang baik” (HR. Hakim)

Apakah konsistensi dalam beribadah, berdoa, dan bertawakal selama haji masih dilakukan pada saat pulang ke Tanah Suci?

Dari Ibnu Umar, Nabi SAW bersabda,

الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah)

Apakah hikmah yang didapatkan dalam ibadah haji memberikan pengaruf positif bagi ibadah-ibadah lainnya? Apakah pelaksanaan rukun Islam yang terakhir ini menjadikan jamaah semakin khusyuk dan paripurna dalam amal ibadah lainnya?

Sahabatku, secara umum, kualitas “kemabruran” haji dapat dinilai dalam beberapa hal.

Pertama, konsistensi dalam memelihara niat yang baik dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Niat baik ini sama dengan niat haji yang semata-mata dilakukan karena Allah SWT dan bukan karena manusia.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat.” (HR. Bukhari-Muslim).

Kedua, konsistensi memelihara diri dalam kesucian (ketakwaan) dan ketegaran. Dua pilar ini merupakan hasil yang didapatkan para hujjah setelah melakukan sa’i yang senantiasa dimulai dari Shafa (berarti kesucian) dan Marwa (ketegaran).

Allah SWT berfirman, “Sungguh, Shafa dan Marwa merupakan sebagian dari syiar Allah.” (QS. Al-Baqarah: 158).

Ketiga, konsistensi berada dalam lingkaran tauhid dan lingkaran ketuhanan dalam menjalani kehidupan. Sikap ini merupakan falsafah thawaf yang senantiasa berlomba-lomba berada dalam lingkaran ketuhanan bersama orang-orang saleh dan menyegerakan diri dalam kebajikan (QS. Al Hajj: 26).

Keempat, memiliki kemampuan yang besar dalam menjauhkan diri dari perbuatan buruk dan tercela, tidak mengulangi keburukan masa lalu karena hal tersebut merupakan salah satu tanda ibadah hajinya diterima Allah SWT (QS. Al-Maidah: 93).

Kelima, memiliki kemampuan yang besar untuk lebih zuhud dalam urusan dunia dan senantiasa mengharap kepada Allah dalam urusan akhirat. Hal yang sama telah dilakukan sepanjang perjalanan menuju medan haji, di medan haji dan proses kepulangannya ke Tanah Air. Allah SWT berfirman, “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ihlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Keenam, memiliki kemauan yang besar untuk lebih banyak memberi dan berbagi kepada karib kerabat dan masyarakat sekitar.

Demikianlah kriteria haji mabrur. Kriteria penting pada haji mabrur adalah haji tersebut dilakukan dengan ikhlas dan bukan atas dasar riya’, hanya ingin mencari pujian, apalagi ingin disebut “Pak/Ibu Haji”.

Ketika melakukan haji pun menempuh jalan yang benar, bukan dengan berbuat curang atau menggunakan harta yang haram, dan ketika melakukan manasik haji pun harus menjauhi maksiat, ini juga termasuk syarat tercapainya mabrur.

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari-Nya. Oleh karenanya, senantiasalah MEMOHON DOA kepada Allah agar kita yang telah berhaji dimudahkan untuk meraih predikat haji mabrur. Yang tentu saja ini butuh usaha, dengan senantiasa memohon pertolongan Allah agar tetap taat bermanfaat dan menjauhi maksiat.

Semoga Allah menganugerahi kita haji yang mabrur dan tetap terjagan sampai akhir hayat, bertemu dengan Allah swt.