Hikmah-hikmah dari Allah SWT begitu banyak tersebar di muka bumi ini, seluruh perintah-Nya adalah kebaikan, dan seluruh larangan-Nya adalah untuk mencegah manusia terperosot jatuh ke jurang keburukan, Termasuk perintah atau kewajiban ibadah haji memiliki banyak sekali manfaat dan faedah serta tentunya hikmah yang luar biasa untuk diresapi, sehingga sangat bagus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah SWT (Tauhid).

Allah SWT berfirman :

وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالاً۬ وَعَلَىٰ ڪُلِّ ضَامِرٍ۬ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ۬ (٢٧) لِّيَشۡهَدُواْ مَنَـٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡڪُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ۬ مَّعۡلُومَـٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ‌ۖ فَكُلُواْ مِنۡہَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡبَآٮِٕسَ ٱلۡفَقِيرَ (٢٨)

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfa’at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak Maka makanlah sebahagian daripadanya dan [sebahagian lagi] berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. . [al-Hajj [22]:27-28]

Ibadah haji wajib bagi muslim yang mampu, dan kewajibannya hanya sekali seumur hidup. Oleh karena itu, hendaklah seorang Muslim berusaha segera melaksanakannya, apalagi ibadah haji termasuk salah satu dari rukun Islam yang lima.

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Islam dibangun di atas lima (tiang): bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allâh dan bahwa Muhammad adalah utusan Allâh, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” [HR. al- Bukhâri no. 8 dan Muslim no. 16]

Barangsiapa menunda-nunda sampai lebih lima tahun, padahal sudah memiliki kemampuan, maka dia benar-benar jauh dari kebaikan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِنَّ عَبْدًا أَصْحَحْتُ جِسْمَهُ وَأَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِى الْمَعِيشَةِ تَأْتِى عَلَيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لَمْ يَفِدْ إِلَىَّ لَمَحْرُومٌ
Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya seorang hamba yang telah Aku anugerahi kesehatan badan, Aku telah luaskan penghidupannya, telah lewat padanya lima tahun, (namun) dia tidak mendatangiKu (yakni: melakukan ibadah haji), dia benar-benar dicegah (dari kebaikan). [HR. al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, no. 10695 dan dalam Syu’abul Îmân, no. 4132, 4133; Ibnu Hibban dalam Shahîhnya, no. 3703; Abu Ya’la dalam Musnadnya, no. 1031; ath-Thabarani dalam Mu’jamul Ausath, no. 486; dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, no. 10696. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq Shahîh Ibnu Hibbân, dan syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahîhah no. 1662]

Ketika Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk beribadah, bukan berarti Allâh Azza wa Jalla membutuhkan ibadah itu, akan tetapi hal itu untuk kebaikan manusia sendiri. Demikian juga ketika Allâh mewajibkan ibadah haji, bukan berarti Allâh Azza wa Jalla membutuhkan ibadah haji tersebut. Sebagaimana FirmanNya :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [QS. Ali Imrân [3]: 97]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan dari Ibnu Abbâs, Mujâhid, dan lainnya, tentang firman Allâh, “Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”, yaitu: Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya dia telah kafir, dan Allâh tidak memerlukannya” [Tafsir Ibnu Katsîr, 2/84]

Ayat ini adalah dalil tentang wajibnya haji. Kalimat dalam ayat tersebut menggunakan kalimat perintah yang berarti wajib. Kewajiban ini dikuatkan lagi pada akhir ayat (yang artinya), “Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

Dan kewajiban berhaji cukup sekali bisa dilihat pada hadist-hadist berikut ini :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di tengah-tengah kami, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
« أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ : لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ
“Wahai sekalian manusia, Allâh telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.” Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasûlullâh, apakah setiap tahun (kewajiban berhaji)?” Maka beliau diam, sampai orang tadi bertanya tiga kali. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika aku mengatakan ‘ya’, maka tentu wajib (haji setiap tahun), dan kamu tidak mampu.” [HR. Muslim no. 1337]

Dan kewajiban haji termasuk perkara yang diketahui secara pasti dari ajaran Islam, sehingga mengingkari kewajibannya merupakan kekafiran.

Karena pentingnya kedudukan haji ini sampai khalifah Umar Radhiyallahu anhu memberikan nasehat dengan mengatakan, “Silahkan dia mati sebagai orang Yahudi atau Nashrani” beliau mengucapkannya tiga kali, “Seorang laki-laki yang mati, namun dia belum berhaji, padahal dia memiliki kelonggaran dan keamanan perjalanan. Satu haji yang aku lakukan ketika aku belum berhaji lebih aku sukai dari pada enam atau tujuh peperangan. Dan sesungguhnya satu peperangan yang aku lakukan setelah berhaji lebih aku sukai dari pada enam atau tujuh haji”.  Riwayat al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, 4/334, no. 8923, penerbit: al-Ma’arif, India. Riwayat ini dihasankan oleh syaikh al-Albâni dalam takhrij hadits no. 4641 dalam kitab Silsilah adh-Adha’îfah

Jadi badah haji merupakan kewajiban yang besar, maka sebagai seorang Muslim yang sudah memiliki kemampuan hendaklah berusaha melaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga : Cara Aman Berhaji Tanpa Antri

Semua orang mau melaksanakan ibadah haji dan menyempurnakan rukun Islamnya yg ke-5.  Karena haji adalah bentuk penyerahan diri kepada Allah SWT. Tapi sayangnya, pengelolaan haji masih banyak permasalahan , halangan, dan butuh perjuangan yang berat. Akan tetapi, jika niat sudah bulat, apakah niat itu harus kendor hanya karena urusan teknis? Salah satu kendala dalam pelaksanaan haji adalah “nomor antrian kuota” yang begitu panjang.

 

Untuk mendaftar sampai tanggal keberangkatan jamaah membutuhkan waktu untuk menunggu 15-30 tahun lamanya.  Haji ONH plus pemerintah sendiri kuotanya saat ini memiliki masa tunggu 5-7 tahun.

Saking panjangnya antrian itu tak jarang yang tak bisa lagi berangkat, baik karena ajal sudah menjemput maupun karena hal lain. Bukankah kalau kebaikan itu harus disegerakan?

Dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, maka permasalahan haji yang harus mengantri panjang untuk berangkat, bisa disiasati dengan jalur lain. Salah satunya dengan Haji Non Kuota ini. Banyaknya penipuan yang dilakukan travel penyelenggara dan kegagalan pemberangkatan haji non kuota bukan berarti program haji non kuota ini bobrok.

Jangan Takut dengan Haji Non Kuota!

Berita negatif mengenai calon haji non kuota gagal berangkat beberapa tahun belakangan semakin memberikan kesan kuat bahwa Haji Non Kuota merupakan sebuah program haji yang harus dihindari. Tak hanya itu, masyarakat yang telah terlanjur geram dengan berita negatif di media bahkan sampai memberikannya gelar buruk kepada calon jamaah haji non kuota tersebut dengan sebutan, ‘haji sandal jepit.’ Apakah memang benar demikian faktanya tentang program haji non kuota? Mengapa para calon haji tersebut yang jadi sasaran kegeraman?

Istilah Haji Non Kuota merujuk pada calon jamaah haji yang berangkat haji diluar kuota nasional (kuota haji reguler dan haji plus). Setiap negara memang dijatah oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebagai panitia penyelenggara Ibadah Haji, karena memang ada batas daya tampung Masjidil Haram. Jika tidak ada kuota, bukan tidak mungkin moment Ibadah Haji menjadi moment yang menyedihkan dengan banyaknya korban karena padatnya jamaah dari berbagai negara di dunia yang tidak terkontrol massanya. Iya! Hal itu pasti terjadi karena semua muslim ingin segera menunaikan haji. Bukankah Anda juga menginginkan demikian?

Haji Non Kuota bukanlah haji illegal. Mentri Agama Lukman Hakin Syaifuddin pernah menyatakan hal demikian secara resmi di kantor Kementrian beberapa waktu lalu. Melihat penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya mungkin membuat kita menerka dan mengatakan seperti itu. Jika tidak ikut kuota pemerintah, pastinya ada 2 kemungkinan. Kalau bukan berangkat non kuota, apa ada cara lain berangkat haji tanpa antri yang legal dan aman dari resiko?

 

Jenis Visa Haji Langsung Berangkat & Prosedur Pelaksanaan Haji Non Kuota!

Jenis Visa Haji Langsung Berangkat & Prosedur Pelaksanaan Haji Non Kuota!

  1. VISA FURODAH (HADIAH)

Visa ini adalah hadiah yang diberikan keluarga kerajaan untuk kemudian diperjualbelikan kepada travel penyelenggara haji di seluruh dunia.

Kelebihan : Visa ini relatif lebih aman karena ini adalah visa haji, sehingga jamaah bisa turun pesawat di bandara Jeddah atau Madinah yang hanya dikhususkan untuk jamaah haji selama musim haji.

Kekurangan : Visa ini baru bisa diterbitkan setelah semua keberangkatan haji kuota selesai diberangkatkan. Artinya visa baru bisa di stamp antara 3-1 minggu sebelum hari Arafah. Karena banyaknya visa furodah yang dikeluarkan dan harus di stamp sebelum hari Arafah dan sedikitnya waktu yang diberikan banyak visa-visa yang tidak bisa distamp hingga batas waktu yang ditentukan. Di sinilah banyak terjadi kegagalan pengurusan visa.

Saran  : Yang berminat dengan haji visa jenis ini mohon untuk tidak berharap terlalu banyak karena permintaannya yang tinggi dan terbatasnya visa. Peserta harus hati-hati benar dengan informasi keluar tidaknya visa. Namun begitu sekarang akses melihat visa ini bisa dilihat di situs haji Arab Saudi

  1. VISA MULTIPLE (TIJARIYAH)

Visa ini disebut visa bisnis yang biasa digunakan oleh orang yang suka bolak-balik bepergian ke Arab Saudi. Masa berlaku visa ini beragam, dari 2 tahun, 1 tahun, 6 bulan, 3 bulan sampai 1 bulan. Anda bisa menghitung kapan anda akan berangkat haji hingga kapan waktunya visa ini diproses. 

Kelebihan :  Visa ini bisa distamp jauh-jauh hari sebelum keberangkatan , hingga anda bisa merencanakan keberangkatan haji

Kekurangan : Pengguna visa ini tidak bisa landing pesawat di Jedah/Madinah. Karena hanya pengguna visa haji saja yang diizinkan lewat kedua bandara ini. Sehingga pengguna visa ini tidak bisa langsung mengenakan baju ihram ke Mekah & otomatis kena DAM 1 ekor kambing.

Saran : Banyak jamaah yang dideportasi gara-gara mereka mengenakan baju ihram saat menuju Mekah gara-gara ketidakmengertian mereka dengan jalur ini.  Pengguna visa ini juga rawan masuk ke Mekah jika keberangkatan mereka mendekati hari Arafah hingga terpaksa mereka harus melewati gurun pasir untuk menuju Mekah. Hingga disarankan keberangkatan paling lambat 2 Minggu sebelum hari Arafah dan tidak menggunakan baju Ihram.

  1. VISA AMIL MUSIM (PETUGAS MUSIMAN) & VISA ZIARAH SAKSIYAH (SAKSIYAH)

Visa ini biasa digunakan untuk para pekerja/petugas . Bedanya kalau ziarah Saksiyah untuk umum dan Amil Musim hanya digunakan untuk musiman saja selama musim haji. Cuma bedanya karena Visa Ziarah Saksiyah bukan dikhususkan untuk haji jadi proses masuk ke Arab Saudi tidak bisa lewat Jeddah/Madinah. Tapi Visa Amil Musim diizinkan lewat Jeddah/Madinah karena memang tugasnya untuk itu.

Kelebihan :  Visa ini bisa distamp jauh-jauh hari sebelum keberangkatan , dan harganya lebih murah dari visa yang lain. Terutama untuk amil musim visa ini lebih aman, karena jamaah bisa landing langsung ke Jeddah.

Kekurangan : Visa ini hanya bisa digunakan oleh laki-laki yang berusia di bawah 55 tahun.

 Saran : Untuk pengguna visa ini sebaiknya laki-laki tanpa mahram. Jika harus bersama pasangan istrinya harus menggunakan visa lain yang otomatis perjalanannya akan terpisah, walau pun nanti tetap bertemu selama ibadah.

Intinya Haji Non Kuota aman dilaksanakan dengan catatan :

  1. Pastikan Visa anda aman, anda melihat sendiri visa anda dan untuk visa furodah anda bisa memastikannya lewat situs haji Arab Saudi.
  2. Jangan melunasi pembayaran sebelum anda memastika visa anda aman.
  3. Jangan mendaftar last minute atau mendekati hari Arafah karena harga visa sudah tinggi dan permintaan banyak, dan kalau pun visanya keluar seat pesawat semakin crowded.
  4. Kalau anda melakukan walimatus shafar pastikan setelah visa dan tiket terissud jelas.
  5. Jangan tergiur dengan paket murah karena visa program ini sudah mahal. Visa Furodah bisa sampai $ 7,500 , Multiple bisa sampai $ 5,500. Tiket untuk musim haji bisa di atas $ 2,000. Karena penyelenggara program ini tidak akan berani memastikan tiket sebelum visa aman. Sedangkan penyelenggara kuota sudah melakukan proses tiketting jauh-jauh hari. Jadi harga tiketnya tentu lebih mahal.

Kami sendiri sebagai penyelenggara Haji non kuota bukan tidak pernah mengalami kegagalan hingga terpaksa mengecewakan beberapa jamaah. Namun berdasarkan pengalaman itulah kami bisa menyusun permasalahan-permasalahan di lapangan untuk jadi pembelajaran ke depan.

Dengan mengetahui proses penyelenggaraan haji non kuota minimal mengurangi resiko kegagalan Anda atau kemungkinan terjadinya penipuan dari penyelenggara yang nakal. Semoga bermanfaat dan niat baik ibadah anda terlaksana tanpa halangan.  Amien.

 

Informasi paket Haji Langsung Berangkat :

081905381414 / 087782382158

TESTIMONI JEMAAH