Kalau Ke Maroko Ziarahi Makam Wali ini

Sebagaimana banyaknya orang jahat, orang-orang baik tetap ada bahkan orang-orang baik ini banyak juga yang jadi wali, misalnya kalau di Indonesia atau di tanah jawa dinamakan Wali Songo atau wali Sembilan. Dan di negara-negara lain juga ada termasuk di Marakesh, Maroko.  negeri yang terletak di sebelah barat-utara benua Afrika. Karena terletak di sebelah barat, maka orang-orang Arab menyebutnya dengan Al-Magribi.

Kata  Al-Maghribi tidak asing bagi umat Islam di Jawa, karena sudah melekat pada nama seorang wali di Jawa, yaitu Syaikh Maulana Maghribi. Yaitu seorang ulama yang berasal dari negeri Maghribi (Maroko). Saking terkenalnya nama ulama ini di Jawa, maka makam atau petilasannya ada di tujuh tempat. Luar Biasa! Kok bisa begitu ya?, sakti mungkin.

Berikut Wali Tujuh yang berada di Marakesh- Maroko :

  1. Qadhi Iyadh (w. 544 H/1149 M, pengarang kitab Asy-Syifa’)
  2. Imam Suhayli  (w. 581 H/ 1185 M, pengarang kitab Ar-Raudh Al-Unf)
  3. Sidi Yusuf Bin Ali As-Shonhaji (w. 593 H / 1196 M, penghuni gua)
  4. Sidi Abu l-Abbas As-Sabti (w. 601 H / 1204 M, Si Murah Hati)
  5. Syaikh Sulaiman Al-Jazuli (w. 870 H/1565 M pengarang kitab Dala’il al-Khairat ),
  6. Sidi Abdulaziz Al-Tebaa (w. 1499, pendiri Tarekat Imam Jazuli)
  7. Sidi Abdullah Al-Ghazwani  (w. 935 H, Murid Sidi Al-Tabba’, penerus Tarekat Syadzaliyyah Jazuliyyah)

Kota Marrakesh di Maroko termasuk kota besar yang sudah maju. Dulunya bekas ibu kota kerajaan karena itu banyak peninggalan bangunan kuno, seperti  tembok  benteng  serta gerbangnya yang megah, istana raja dan pangeran, da kuburan-kuburan para wali, ulama, orang-orang ternama zaman dahulu.

Sekarang kota Marrakesh dikenal sebagai kota pariwisata. Di tengah kota ada alun-alun yang dinamai  Jama’ Al-Fana, di situlah turis mancanegara maupun turis domestik tumpah ruah, termasuk para peziarah Wali Tujuh, seusai berziarah akan berkunjung ke Jama’ Al-Fana untuk sekadar santai, belanja souvenir, atau makan minum khas makanan Maroko.

Mari telusuri dari kejutuh wali itu,

1. Qadhi Iyadh

Nama lengkapnya Iyyad bin Musa bin Iyadh bin ‘Amr Bin Musa Bin Iyadh bin Muhammad bin Abdillah bin Musa bin Iyadh As-Sibti Al-Yahshubi (1083-1149). Nasab Al-Yahshubi merujuk ke Yahsub bin Malik salah satu kabilah Humair, kabilah di Yaman Al-Kohtoniyah. Nenek moyangnya hijrah ke kota Basthoh, salah satu daerah di Gornatoh (Granada, Spanyol). Kemudian hijrah ke kota Fes, Maroko. Lalu buyutnya, Amr hijrah ke kota Sebta tahun 373 H / 893 M. Keluarganya selanjutnya terkenal di sana sebagai keluarga ahli takwa (ulama). Nah, di sinilah Al-Qadhi Iyyad lahir 15 Sya’ban 476 H / 28 Desember 1083 M. Dia tumbuh dan belajar kepada ulama Sebta. Kemudian mondok/nyantri ke Andalusia tahun 503. Menjadi Qadhi pada umur 35 tahun, sebelumnya pada umur 28 sudah bermunadzarah (mengisi acara-acara ilmiyah).

Al Qadhi Iyadh memiliki banyak ilmu, serta menuangkannya ke dalam kitab, melalui karya-karya-nyalah maka ia terkenal di seluruh pelosok negeri. Kalau bukan karena dia, Maroko tidak bakalan dikenal atau disebut-sebut (Laula Al-Iyyadl lama ‘urifa/dzukira Al-Maghrib). Al Qadhi Syamsuddin berkata dalam kitab Wafayat Al A’yan, “Al Qadhi Iyadh adalah seorang ulama hadits pada zamannya, dan seorang yang alim di antara orang-orang di sekitarnya, dia juga menguasai ilmu nahwu, bahasa, dan dialek bangsa Arab, serta mengetahui ilmu hari dan nasab.”

Al Qadhi Syamsuddin melanjutkan perkataannya, “Di antara karya Al Qadhi Iyadh adalah kitab Al Ikmal fi Syarh Shahih Muslim sebagai pelengkap kitab Al Mu’lim karya Al Mazari, dia juga mengarang kitab Masyariq Al Anwar fi Tafsir Gharib Al Hadits, dan juga kitab At-Tanbihat. Di dalam kitab-kitab yang dikarangnya, Al Qadhi Iyadh memiliki keunikan tersendiri, dan semua karangannya adalah karangan yang sangat menakjubkan, ia pun memiliki syair yang indah.”

Karangan-karangannya sangat berharga, tetapi di antara karangannya yang dianggap paling bagus adalah kitab Asy-Syifa’, kitab tentang riwayat Nabi Muhamnmad SAW. Dia adalah seorang murid dari Abu Abdillah bin Isa, Abu Abdillah bin Hamdin dan Abu al-Hassan ibn Siraj, dan adalah seorang  guru dari Ibnu Rusyd (Averroes), ulama yang ahli kedokteran. Al Qadhi Ibnu Khallikan berkata, “Guru-guru Qadhi Iyadh hampir berjumlah seratus orang.”

Kitab-kitab Al-Qadli Iyadh yang bermazhab Maliki cukup berpengaruh di Indonesia. Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari pendiri NU banyak menukil pendapatnya dalam bukunya “al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan”. Ini mengindikasikan bahwa sekalipun Hadhratus Sayikh Hasyim Asy’ari bermadzhab Syafii, tapi ia tidak segan untuk menjadikan Qadhi Iyadh sebagai rujukan dan teladan.

Qadhi Iyadh bin Musa  memimpin pemberontakan terhadap kedatangan wangsa Almohades ke Ceuta (Sebta), tapi kalah dan dibuang ke Tadha dan kemudian Marrakesh . Dia meninggal pada 1149. Karena dia menolak untuk mengakui Ibnu Tumart sebagai Mahdi yang ditunggu , Qadi Iyadh dieksekusi dengan lemparan tombak dan tubuhnya kemudian dipotong-potong. Dikebumikan di Bab (Gerbang)  Ilan di belakang pagar  tembok kota Marrakesh.

Untuk mengenang jasanya, Kerajaan Maroko mendirikan Cadi Ayyad Universitas , juga dikenal sebagai University of Marrakech.

 

2. Imam Suhayli

Imam Abu al-Qasim Abd al-Rahman b Abd Allah al-Suhayli (1114 – 1185), lahir di Al-Andalus , Fuengirola (sebelumnya disebut Suhayl) dan meninggal di Marrakesh .  Al-Suhayli menulis buku tentang tata bahasa dan hukum Islam. Dia terutama dikenal sebagai ulama dengan komentarnya pada  sira   Ibn Hisham .

Al-Suhayli datang ke Marrakesh sekitar 1182 atas panggilan Sultan Abu Yusuf Ya’qub al-Mansur dari wangsa Almohad.  Suhaily adalah nama suatu lembah di Malaga, Andalusia.  dia satu-satunya dari Wali Tujuh yang nasabnya ke Andalusia. Dia mengarang Ar-Raudh Al-Unf, sebuah kitab tentang Sirah Nabawiyah. Buku ini sangat bagus, detil dan bahasanya indah.

Imam Suhayli (w. 581 H/ 1185 M). dikebumikan di Bab-Asy-Syariah, Marrakesh, kini bernama Bab Ar-Rabb. Makamnya dapat ditemukan di luar tembok kota. Di mana Anda akan melihat tanda ini dan namanya di dinding. Ketika Anda memasuki sebuah kuburan berdinding dan berjalan menuju sisi lain Anda akan melihat masjid dan Imam dimakamkan di sana. Dia meninggal di sini dan dikubur di luar Bab er Robb (dengan pintu masuk hanya diperbolehkan untuk umat Islam), dulunya bernama Bab el Charia. Makamnya dikunjungi setiap tahun oleh banyak peziarah. Pemakaman Bab El Charia, dibangun di tempat di mana  pasukan Abd El Moumen dari wangsa Almohad mengalahkan wangsa Murabitun pada tahun 1147.

Di pekuburan ini juga dikebumikan seorang Syaikh tarekat Tijani bernama Sidi Ahmad Kanlafi     yang sangat dihormati para ikhwan Tijani. Para jamaah Tijaniyah dari Indonesia yang tiba di kota Marrakesh, biasanya tidak melewatkan ziarah di makam Sidi Ahmad Kanlafi, selain tentunya bertemu dengan Sidi Muhammad Al-Kabir, khalifah Tijaniyah tertinggi di Maroko, di zawiyahnya. Sebab mereka yang percaya tawasul, berdoa di makam Sidi Ahmad Kanlafi, seringkali  doanya kepada Allah akan terkabul.

 

3. Sidi Yusuf Bin Ali As-Shonhaji

Tokoh ini belum diketahui kapan lahirnya. Dia kesohor dengan sebutan Shohibul Ghori (Penghuni Gua), sebab ia banyak hidup di gua. Dia belajar tarekat dari Syaikh Abi ‘Usfur Ya’libi ibnu Wain. Adapun tarekatnya terkenal dengan sebutan Saniyyah Janaidiyyah.
Banyak sejarawan yang tidak mengenal masa belajarnya dalam mencari ilmu, tetapi dia dikenal karena kesabaran dan penerimaan keputusan ilahi. Dia menderita penyakit kusta dan akan kehilangan bagian dari tubuhnya. Hal itu membuat orang lari dari padanya karena takut tertular penyakit. Dia mengasingkan diri dari orang-orang dan memanggil Allah (Ta’ala) melalui kesabarannya, dan dia mendapatkan berkah yang besar. Dia adalah contoh dari seorang menerima keputusan Ilahi dan memahami rahasia menerima takdir dengan kesabaran.

Pengasingannya adalah sebuah bangunan kecil di mana ada ruang bawah tanah. Di situlah  dia menghabiskan hari-harinya dan di mana dia dimakamkan.  Meskipun memiliki penyakit ini, dia akan mengadakan kenduri ketika dia akan kehilangan bagian tubuh. Yusuf bin Aly wafat pada bulan rajab tahun 593 H/1196 M. Dia dimakamkan di sebelah makam Syaikh Abi Usfur yang wafat pada tahun 583 H/1817 M dan Syaikh Abi ‘Amran al- Aswady  (w. 590 H/ 1193 M).

 

4. Sidi Abul Abbas As-Sabti

Lahir di Sebta (524 H/1192 M) wali terbesar kota Marrakesh.  Ayahnya wafat ketika masih kecil. Uminya mengirimnya ke penjahit supaya belajar agar bisa mendapat uang dengan ketrampilan tersebut. Namun dia kabur ke pondoknya Syaikh Abi Abdillah Muhammad Al-Fakhar. Kemudian dia dijemput oleh ibunya di pesantren tersebut. Sang Syaikh usul ke ibunya Abu Al-Abbas bahwa ia akan tetap mendidik anaknya sekaligus memberi uang ke Ibunya sebagai ganti ia mencari nafkah dari menjahit.

Pada tahun 539 H / 1144 M tahun ketika wangsa Al-Muwahidun merebut kekuasaan wangsa Al-Murobithun yang menyebabkan kematian Sultan Yusuf bin Tasyfin, Abu Al-Abbas pergi ke Marrakesh guna mencari guru dengan niatan menuntut ilmu, umurnya baru 16 tahun. Sayangnya Marrakesh waktu itu tengah dikepung oleh musuh (Muharam-Syawal 541 H /1146 M), oleh karenanya ia naik gunung Jiliz (Gueliz) dengan pembantunya untuk bersembunyi dan bertapa di sana selama 40 tahun. Pada zaman Sultan  Al-Ya’qub ia turun gunung, mengakhiri pertapaannya, kemudian dibangunkan rumah dan pesantren untuk mengayomi umat.

Sultan Yaqub al-Mansur dari bangsa Almohad adalah murid al-Abbas.  Setiap kali Yaqub al-Mansur mengunjungi al-Abbas,  dia bertindak “sebagai seorang hamba”.
Ketika al-Abbas meninggal pada 1204 (3 Jumadal Akhir  601 H), dia dimakamkan di pemakaman Sidi Marouk, dekat Bab Taghzout.  Pada tahun 1605, para pengikut Sultan Abu Faris mendirikan mausoleum untuk al-Abbas, berharap bahwa kekuatan suci akan membantunya pulih dari penyakit epilepsi.  Pada tahun 1998, SultanHassan II  membuatkan zawiya untuk menghormatinya.
Buku riwayat Al-Abbas, Akhbar Abil-Abbas as-Sabti, ditulis oleh Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya at-Tadili , yang sebagian disusun oleh al-Abbas sendiri dan berisi banyak riwayatnya.

 

5. Syaikh Sulaiman  Al-Jazuli 

Syaikh Sulaiman Al-Jazuli, musannif Dala’il al-Khairat , sangat terkenal di Indonesia. Karena kitabnya sering dibaca kaum Muslimin di berbagai kesempatan. Dia dimakamkan tengah kota Marrakesh. Namun tidak berada di dekat jalan besar, tetapi masuk ke gang-gang sempit yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Mungkin dulunya wilayah ini termasuk wilayah strategis dan dekat jalan besar, namun seiring pertumbuhan penduduk dan pembangunan pemukiman kota yang padat menjadikan daerah itu menyempit.

Untuk menuju makam harus berjalan kaki melewati lorong-lorong bangunan tua yang sudah jadi perkampungan dan sebagaiannya menjadi toko souvenir dan kenang-kenangan untuk turis. Setelah berjalan sekitar 10 menit, sampailah kemakam Syaikh Sulaiman yang terdapat dalam bangunan besar yang dulunya konon itu pesantrennya dan masjid besar. Sekarang tak ada lagi pesantrennya, dan hanya tinggal masjid yang hanya digunakan untuk salat jumat warga sekitar.

Sebagian dan keramatnya adalah setelah 77 tahun dan dia, makamnya dipindahkan ke Marrakesh, dan ternyata ketika jenazah beliau dikeluarkan dan kubur, keadaan jenazah itu masih utuh seperti ketika dia dimakamkan. Rambut dan jenggotnya masih nampak bersih dan jelas seperti pada hari dia dimakamkan. Makam  banyak diziarahi kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia.

Sebagian besar dan peziarah itu membaca Dala’il al-Khairat  di sana, sehingga dijumpai di makam itu bau minyak misik yang amat harum karena begitu banyak di bacakan shalawat salam kepada Nabi Muhamad SAW, para sahabat dan keluarga beliau. Kisah wangi semerbak itu adalah sebagian dari sejarah tentang dirinya, bahwa para shalihin dari berbagai penjuru dunia serta dari masa ke masa, senantiasa membaca dan mengamalkan Dala’il al-Khairat .

Syaikh Sulaiman Al-Jazuli wafat sewaktu melaksanakan shalat shubuh pada sujud yang pertama (atau pada sujud yang kedua menurut riwayat lain), pada tanggal 16 Rabi’ul Awwal 870 H. Dia dimakamkan setelah waktu shalat zhuhur pada hari itu juga di tengah masjid yang dibangunkan untuknya.

 

6. Sidi Abdulaziz Al-Tabba’

Lengkapnya Abu Faris Abdul Aziz bin Abdul Haq At-Tabba’ Al-Harrar Al-Marakusyi al-Hassani (w. 1499). Dia murid Syaikh Sulaiman Al-Jazuli. Wali ini kesohor sebagai wali gaul yang menganjurkan untuk bergumul dengan masyarakat. Dia mensinergikan antara ritual religi, budaya, kegiatan ekonomi dan kehidupan sosial. Kalau di tanahj Jawa, dia seperti Sunan Kalijaga. Banyak orang percaya bahwa keberkahannya bisa mengobati kemalasan dan membangkitkan kecerdasan.
Salah satu prinsipnya adalah “al-wujud yanfa ilu bi’l-jud” yang berarti “keberadaan bergerak melalui kemurahan hati atau keberadaan dalam gerak melalui kemurahan hati”. Rahasianya adalah pemberian amal, dan  dia selalu memberikan apapun yang dia punya kepada siapa pun yang meminta. Dia pernah memberikan kemeja dari punggungnya kepada seseorang yang bertanya dan menunggu dalam dingin. Kemudian tiba-tiba penguasa mengirim sepuluh set pakaian untuknya.
Al-Tabaa ‘ adalah pendiri pertama  sufi  zawiyya  Al-Jazuli  yang berada di  Marrakesh. Prinsip-prinsip Sidi al-Tabaa’ berasal dari ajaran Abu Madyan, sebagaimana dituangkan dalam bukunya “Bidayat al-Murid” (“Prinsip-prinsip dasar dari jalan Sufi”), sebuah kompilasi yang ditulis oleh Abu Mohammed al-Salih Majiri (d.631/1216).
Al-Tabba’ sering bepergian ke  kota Fez , di mana ia memberikan ceramah tentang tasawuf dan memimpin bacaan Dala’il al-Khairat di madrasah al-Attarin. Di Fez, dia juga mendorong Sidi Ali Salih al-Andalusi (w. 903/1488), seorang pengungsi dari Granada dan penulis “Syarah Rahbat al-Aman”, mendirikan Zawiya Jazuliyah kedua yang berada di Fez .
Sidi al-Tabba’ wafat pada bulan Rabiul Tsani tahun 914 H/1582 M. Makamnya terletak di utara kawasan Madinah kota Marrakesh banyak dikunjungi peziarah sepanjang tahun. Petilasannya sekarang dikenal dengan nama Haumah Sidi Abdul Aziz, yang terletak di antara kampung Al-Mawasin dan Amashfuh. Dia digantikan oleh Sidi Abdullah al-Ghazwani .

 

7. Sidi Abdullah Al-Ghazwani

Nama lengkapnya Abdullah bin ‘Ajjal Al-Ghazwani. Murid Abdul Aziz At-Tabba’. Dia mengarang kitab bernama, An-Nuqtah Al-Azaliyah fi Sirri Ad-Dzat Al-Ilahiyah (Titik Azali kupas tuntas Rahasia Dzat Ilahi. Al-Allamah Abdullah Al-Hibthi berkata, “Saya bersaksi bahwa dia (Abdullah Al-Ghazwani) termasuk al-Arif billah (wali Allah), dia lebih banyak menjawab dengan prilaku (teladan) dari pada dengan perkataan (ceramah).”

Wali yang juga murid Sidi al- Tabba’ ini penganut Tarekat Syadzaliyyah Jazuliyyah yang berdiri atas dasar cinta pada Rasul dengan bershalawat atasnya dan atas dasar membiasakan dzikir kepada Allah. Adapun pertemuan sanadnya pada Syaikh Jazuli melalui perantara gurunya, Sidi at -Tabba’. Semasa hidupnya ia telah mengarang kitab, selain An Nuqtah, yaitu Masmi’ Syi’ir al Ghazwani (2400 bait),  Ba’wah dan Aurad al Ghazwani.  Dia wafat pada 935 H.

About Author

client-photo-1
infomuslimtours
Info Muslim Tour adalah travel agent resmi terpercaya di Indonesia. Melayani anda untuk segala keperluan Tour, Haji, Umroh, Ziarah, Tour Muslim dan lain sebagainya. Hubungi kami di (021) 80885137 / 80877042 atau hotline kami di 0877 8238 2158 & 0812 9640 5315

Comments

Leave a Reply