Naisabur, Indah Akan Pirus Dan Ulamanya

Naisabur adalah sebuah kota di Provinsi Razavi Khorasan, Naisabur bekas ibukota dari Khurasan, di timur laut Iran dan terletak di dataran subur di kaki Gunung Binalud. Naisabur, bersama dengan Marwah, Herat dan Balkh adalah salah satu dari empat kota besar dari Khurasan Raya dan juga merupakan salah satu kota terbesar pada abad pertengahan, sebagai pusat pemerintahan kekhilafahan Islam di timur, tempat tinggal bagi beragam kelompok etnis dan agama, sebagai jalur perdagangan pada rute komersial dari Transoxiana dan Tiongkok, Irak dan Mesir. Kota ini mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-10 M hingga dihancurkan oleh invasi pasukan Mongol pada tahun 1221 M, juga gempa besar pada abad ke-13 M.

   Salah satu tambang batu pirus yang sangat terkenal di dunia ada di Naisabur juga. Yaitu berada di kaki gunung binalud yang merupakan salah satu tambang batu pirus tersebut dan selain itu ada tambang Kerman dan Damghan yang merupakan tambang batu  pirus lainnya.

 

  Tambang Neyshabur tidak hanya tambang yang paling penting di Iran saja tetapi juga di seluruh dunia, karena kwalitasnya yang sangat baik dan hasilnya yang melimpah. Tambang tersebut memiliki cadangan 9.000 ton dan kapasitas produksi tahunan 19 ton per 55 km sebelah barat laut dari Nishapur. Saking kwalitasnya yang sangat baik, pirus alami neyshabur telah dipamerkan di Museum Of London.

   Tambang pirus Naisabur yang terbagi dalam dua kelompok, kaki gunung dan ekstraksi dilakukan di gunung. Lembah Pertama memiliki empat gua,gua pertama dikenal sebagai Gua Abdul Bvashaqy yang merupakan gua tertua dan menghasilkan nilai pirus yang lebih halus, gua kedua disebut gua merah, gua ketiga dan keempat di sebut gua raja.

   Batu Pirus (Turquoise) sejak peradaban kuno dikenal sebagai batu anti-sihir dan digunakan dalam berbagai ritual keagamaan. Dalam sejarah bahkan hingga kini, Pirus Persia berada di tingkat teratas mengalahkan batu dari jenis yang sama dari Afghanistan, Australia timur, Amerika Serikat, Mesir, Amerika Selatan, sebagian wilayah di Asia Tengah bahkan di Cina. Ini karena batu Pirus Persia terkenal dengan warna yang biru yang tajam.

  Batu Pirus merupakan batu penting dan sangat berharga dalam Islam. Untuk menjelaskannya cukup dengan menyinggung hadist dari kitab-kitab masyhur.
  -Imam Ja’far As-Shadiq as mengatakan: “Aku suka setiap orang Mukmin memiliki lima cincin, Akik, Hadid Sin, Ruby, Durun Najaf dan Pirus yang memiliki manfaat, memandangnya akan membuat jiwa bahagia, memandangnya akan memperkuat mata, memakainya akan melapangkan dada dan menguatkan hati menghadapi masalah, memperkuat jantung, terkabulkannya hajat dan termudahkannya urusan.” (Rujuk kitab, Al-Tahdzib 6/37. Wasail 14/403. Raudhatul Waidzin 2/411. Farhatul Ghura hal 113)
  -Hadis lain dari Imam Ja’far As-Shadiq as menyebutkan, “Orang yang memakai batu Pirus di tangannya, tidak akan miskin dan tidak akan kehabisan uang.” (Rujuk kitab Kafi 6/473. Wasail 5/94-95)
  – Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt berfirman kepadaku; wahai Muhammad! Sesungguhnya Aku malu untuk tidak mengabulkan doa hamba-Ku yang mengangkat tangannya berdoa sedangkan dia memakai cincin Pirus.” (Mahjud Daawat hal 359. Wasail 5/95. Biharul Anwar 90/321)

   “Demikian kita telah membahas tentang batu pirus dan kemuliyaannya, sekarang kita akan membahas beberapa ulama yang mendunia yang lahir di kota batu biru ini.”

   Kota Naisabur mendapatkan julukan Maa Wara’a an Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad pada abad pertengahan. Terdapat daerah bernama Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Disana bermukim banyak ulama besar. Kaum muslimin menaklukannya pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan dan gubernur Abdullah bin amir bin Kuraiz pada tahun 31 H (651/652 M).

   Naisabur banyak melahirkan ulama-ulama ahlussunah maupun syi’ah yang ilmunya sangat dipakai dalam kehidupan sekarang ini seperti hadits, fiqh dan akidah. selain Imam Bukhori terdapat ulama yang menghasilkan kitab-kitab kontemporer.

  Seperti Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim al-Naisaburi atau terkenal dengan sebutan Al-Hakim, adalah salah seorang imam di antara ulama-ulama hadits dan seorang penyusun kitab yang terkemuka di zamannya. Namanya lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Handawaihi bin Nu’aim al-Dhabbi al-Thahmani al-Naisaburi, juga terkenal dengan sebutan gelarnya Ibnu al-Baiyi. Ia dilahirkan di Naisabur pada pagi Jumat, bertepatan dengan 3 Rabiul Awal pada tahun 321 H.

   Awal pendidikan ilmu agama didapatkannya dari ayah dan bapak saudaranya, kemudian ia berguru pula kepada Abu Hatim bin Hibban pada tahun 334 H. Ia juga disebutkan telah belajar ilmu fiqih kepada seorang ulama besar di Naisabur, yaitu Ali bin Sahal Muhammad bin Sulaiman al-Shaluki al-Syafi’i. Setelah itu pada tahun 340 H, ia berhijrah meninggalkan kampung halamannya menuju Irak. Di sana, ia mempelajari ilmu hadits dari Ali bin Ali bin Abi Khurairah, seorang faqih yang terkenal. Setelah menunaikan ibadah haji, ia kemudian bersafari mencari ilmu ke Khurasan dan negara-negara lain. Ia bertekad untuk mencari dan mengumpulkan hadits, hingga disebutkan bahwa ia telah mendengar hadits dari sejumlah besar para ulama, serta menurut riwayat gurunya berjumlah sekitar 1.000 orang.

   Terdapat banyak para ahli ilmu yang meriwayatkan hadits darinya, di antaranya Daruquthni, Abu Bakar Al-Qaffal Al-Syasy dan teman-temannya. Ia sentiasa bermuzakarah dan bermuhadharah bersama para ulama hadits, bahkan ia juga pernah bermubhahasah dengan Daruquthni. Selain itu, ia juga menghasilkan karya-karya berbentuk penulisan dalam pelbagai jenis ilmu.

   Ia pernah dilantik sebagai hakim di Naisabur pada tahun 359 H, sehingga dikenal dengan nama “al-Hakim”. Ia wafat juga di Naisabur pada tahun 405 H.

Di antara kitab-kitab karyanya yang terkenal, ialah Ma’rifat ‘Ulum al-Hadits, al-Madkhal ‘ala ‘ilmi al-Shahih, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, Fadhail al-Imam al-Syafi’i, dan al-Amali.

   Abu Utsman ash-Shabuni adalah seorang imam ahlus sunnah pada abad ke-5 H dari kota Naisabur, Khurasan. Nama lengkapnya adalah Ismail bin Abdirrahman bin Ahmad bin Ismail bin Ibrahim bin Amir bin Abid. Ayahnya adalah seorang penasehat agama di kotanya, namun terbunuh ketika Imam Ash-Shabuni masih berumur sembilan tahun sehingga ia dirawat oleh pamannya dan dididik dalam rumah yang sarat pendidikan. Ia meninggal pada bulan Muharram 449 H. Dalam menuntut ilmu agama ia memiliki banyak guru dan murid, di antara gurunya adalah Abu Bakr Ibnu Mihran al-Muqri (w.381 H), Al-Hakim an-Naisaburi (321-405 H), Imam al-Haramain Abul Ma’ali Abdul Malik Al-Juwaini. Sedangkan di antara muridnya yang terkenal adalah Al-Imam Abu Bakr Ahmad bin Husain bin ‘Ali al-Baihaqi.

Di antara karya tulisnya yakni Aqidatus Salaf wa Ashhabul Hadits, Al-Fushul fil Ushul, Al-Intishar, dan masih banyak lagi.

   Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kausyadz Al-Qusyairi An-Naisaburi. Al-Imam Muslim adalah seorang yang kaya lagi dermawan. Adz Dzahabi mengatakan bahwa beliau berprofesi sebagai pedagang, Beliau dikenal sebagai muhsinin (orang yang baik) di kota Naisabur karena harta kekayaan beliau cukup melimpah. Awal mula beliau menuntut ilmu hadits adalah pada usia 18 tahun, belajar kepada Yahya bin Yahya At Tamimi di negeri Khurasan. Kemudian setelah itu belajar kepada Ishaq bin Rahuyah dan juga kepada para ulama lain yang ada di negeri Khurasan.

   Pada usia 20 tahun beliau menunaikan ibadah haji ke Baitullah Al-Haram di Mekkah. Di kota Mekkah, beliau belajar hadits kepada Al-Qa’nabi. Kemudian di kota Kufah beliau belajar hadits kepada  Ahmad bin Yunus. Di kota Ray (sekarang bernama Teheran, di Iran) beliau belajar hadits kepada Muhammad bin Mihran, Abu Ghassan dan lain-lain. Di negeri ‘Irak beliau belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin Maslamah, dan lain-lain. Di negeri Hijaz (Saudi Arabia) beliau belajar hadits kepada Sa’id bin Manshur, Abu Mush’ab, dan lain-lain. Di negeri Mesir beliau belajar hadits kepada ‘Amr bin Sawad, Harmalah bin Yahya, dan lain-lain.

   Dia juga sudah belajar hadis sejak kecil seperti Imam Bukhari dan pernah mendengar dari guru-guru Al Bukhari dan ulama lain selain mereka. Orang yang menerima hadist dari mereka, rata-rata adalah tokoh-tokoh ulama pada masanya. Mereka juga telah menyusun beberapa tulisan yang bermutu dan bermanfaat, yang paling bermanfaat adalah kitab Shahihnya yang dikenal dengan Shahih Muslim. Kitab ini disusun lebih sistematis dari Shahih Bukhari. Kedua kitab hadis shahih ini (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) biasa disebut dengan Ash Shahihain. Kadua tokoh hadis ini biasa disebut Asy Syaikhani atau Asy Syaikhaini, yang berarti dua Syekh ata pakar ulama. Sehingga Imam Al-Ghazali pun dalam kitabnya Ihya Ulumuddin terdapat istilah akhraja hu yang berarti mereka berdua meriwayatkannya.

   Imam Muslim wafat pada Minggu sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H / 5 Mei 875. dalam usia 55 tahun.

   Karya Tulis Beliau: Al-Jami’ Ash Shahih (Shahih Muslim), Kitab Al-Kuna wal Asma`, Kitab Munfaridat wal Wuhdan, Kitab Ath Thabaqat, Rijal ‘Urwah bin Az Zubair dan masih banyak lagi.

   Demikian ulasan mengenai sejarah singkat tentang kota Naisabur, kota yang melimpah akan batu permatanya dan sejarah akan Ulamanya yang menjadikan rujukan kaum muslimin dunia. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan anda, maaf jika ada salah-salah kata yang kurang berkenan, Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarrakatuh. (^_^)

About Author

client-photo-1
infomuslimtours
Info Muslim Tour adalah travel agent resmi terpercaya di Indonesia. Melayani anda untuk segala keperluan Tour, Haji, Umroh, Ziarah, Tour Muslim dan lain sebagainya. Hubungi kami di (021) 80885137 / 80877042 atau hotline kami di 0877 8238 2158 & 0812 9640 5315

Comments

Saeed
March 29, 2017
I am from neyshabur 😍😍😍

Leave a Reply